Tampilkan postingan dengan label my paper. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my paper. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Januari 2014

seorang pengembala ingin jadi sarjana. my book

Masa kecil penuh kebahagiaan

setiap anak selalu menginginkan kebebasan bermain sepuasnya namun berbeda halnya dengan keempat bersaudara ini dimasa kecilnya iya bahkan hampir tidak terlalu mementingkan permainan seperti layaknya anak-anak yang lain namun iya hanya ingin memberikan sedikit bantuan kepada kedua orang tuanya. Diantara mereka saudara yang paling tualah yang paling sering membantu kedua orang tuanya, selepas iya pulang sekolah seteguk air dan sesendok nasi menjadi penjanggal dalam perutnya. Berbeda halnya dengan anak yang lain ketika ia pulang sekolah maka makanan lezat, dan minuman yang enak telah menanti dirumah kemudian setelah itu ia bebas untuk bermain dengan yang lain namun bagi keempat bersaudara ini semua itu tidak terlalu penting karena ketika seragam sekolah telah terlepas dari tubuhnya maka tugas telah menunggunya. Air seteguk serta sesuap nasi menjadi pengantar untuknya melaksanakan tugas-tugasnya, selepas iya mengganti baju seragamnya dengan kaos yang sudah hampir robek iya langsung bergegas dan berangkat mengembalakan ternak-ternaknya dipersawahan tak peduli dengan permainan yang sedang dimainkan oleh anak yang lain. Sawah adalah tempat bermainnya dan hewan ternaknya adalah teman bermain sekaligus sesuatu yang dapat menghiburnya.

Kemewahan dan keindahan kota tak pernah ia rasakan karena tempatnya selepas ia pulang sekolah adalah sawah dan dikelilingi hewan ternak. Tak pernah ia merasa bosan dengan yang dilakukan karena iya berfikiran bahwa yang dilakukan sekarang adalah sebahagiaan kecil dari proses menuju ke suatu taraf yang lebi tinggi lagi belajar mandiri adalah suatu hal yang ia lakukan untuk menyongsong masa depan yang akan datang. Melakukan sesuatu hal yang dapat kita lakukan namun meminta kepada orang lain untuk melakukannya adalah perbuatan manja yang ia lakukan. Hidup manusia tak seharusnya terus bergantung kepada orang lain namun ada saatnya ketika kita masih dapat melakukan sesuatu maka lakukan dan ada saatnya ketika kita butuh maka memintalah bantuan kepada yang lain.

Jiwa yang manja justru hanya akan membuat lemah terhadap jiwa itu sendiri namun jiwa mandiri justru akan membuat jiwa itu merasa kuat untuk tetap bertahan dalam kerasnya kehidupan dunia. Doa yang tak pernah lenyap dari pikirannya membuatnya tetap menjadi mandiri dan hidup dalam kesederhanaan. Hidupnya memang dapat kita katakana jauh dari kata layak namun inilah realita yang harus diterima, mewah tidak mampu menjamin kebahagiaan begitupun dengan kemiskinan juga tidak mampu menjamin kebahagiaan akan tetapi dengan kata syukur kita mampu memaknai hidup ini serta keharmonisan yang terjalin diantara keluarga juga mampu memberikan warna yang berbeda dalam hidup ini.

Setiap sholat yang iya lakukan iya selalu menyisipkan doa untuknya dan untuk keluarganya agar kelak dihari kemudian iya mampu memberikan kebahagiaan untuk kedua orang tuanya sebagai um’at muslim ia tak pernah lalai dalam sholatnya. Shalat merupakan kewajiban utama yang harus ia lakukan karena ia sadar bahwa semua yang ia terima baik itu dikeluarganya maupun di dalam dirinya sendiri. Maka dari itu kata syukur tak pernah ia lupakan dalam dirinya. Sebagai anak tertua di dalam keluarganya ia selalu memberikan contoh yang baik bagi ketiga saudaranya. Ia tidak pernah menunjukkan wajah yang lelah, ia tidak pernah menunjukkan wajah yang bosan, ia tak pernah menunjukkan wajah yang kusam, dan tak pernah ia katakana “ah aku lelah”. Sekalipun ia lelah dan merasa capek namun ia tidak pernah menunjukkannya didepan keluargannya karena ia tidak ingin semua keluarganya merasa bosan dan patah semangat utuk menggapai langit. Yang ia inginkan esok semua keluarganya tetap bersemangat untuk menjemput masa depan yang lebih cerah

Ketika hari libur telah datang maka semua anak-anak dibebaskan untuk bermain sepuasnya dan bebas memilih tempat berlibur yang ia inginkan akan tetapi berbeda dengannya ia tidak lebih mementingkan yang namanya liburan di tempat-tempat manapun seperti halnya anak-anak yang lain karena ia sadar akan keadaan yang ia miliki sekarang, keadaan ekonomi yang tidak mendukung dan tugas tetap menunggunya namun dari semua itu ia tak pernah merasa iri dengan yang lain akan tetapi ia tetap merasa bangga dan bahagia menikmati hari-hari liburnya bersama dengan hewan ternaknya yang ia kembalakan setiap pagi hingga sore harinya, ia merasa kegiatan yang ia lakukan adalah kegiatan yang mengisi hari libur yang tidak akan pernah terlupakan.

part III: segera

seorang pengembala ingin jadi sarjana. My book

SEORANG PENGEMBALA INGIN JADI SARJANA
Cukup kata syukur.
Di pinggiran kota terdapat sebuah gubuk kecil nan reok diantara rumah-rumah yang berdiri kokoh nan megah menjadi saksi tentang kehidupan sebuah keluarga yang sederhana, sepasang suami istri yang saling menyayangi dengan empat orang anak, namun tak pernah terdengar akan keributan yang terjadi didalamnya, sebuah keluarga yang harmonis, sebuah keluarga yang selalu mena keutuhan dalam rumah tangganya, sebuah keluarga yang tidak mementingkan kehidupan yang mewah nan megah, cukup dengan kehidupan yang sederhana tetapi mampu menyukuri nikmat yang diturunkan/ diberikan oleh Allah Swt. Tak ada kata mengeluh dengan keadaan , tak ada kata putus asa, tak ada kata bosan tak dalam mengarungi hidup, namun yang ada hanyalah kata syukur dengan apa yang telah diberikan oleh Allah. Syukur yang dipanjatkat oleh mereka setiap kali iya terbangun dari tidurnya dan syukur yang iya panjatka ketika akan terbaring dalam tidurnya.

Keluarga yang sederhana ini tak pernah merasa iri dengan apa yang telah dimiliki oleh tentangganya, dan tak pernah merasa kecil dengan apa yang yang dimilikinya, ia merasa bangga dengan apa yang dimilikkinya. Iya tidak perlu kemegahan dengan aksesoris yang berlebihan, baju yang mahal, celana yang mahal, kendaraan yang mewah karna baginya semua itu hanyalah fana dan akan hilang seiringngan berjalannya waktu. Baginya kebahagiaan yang sesungguhnya adalah kebahagiaan yang terdapat didalam keharmonisan rumah tangganya dan itu merupakan kebahagiaan yang utuh untuknya, kebahagiaan tersebut iya dapatkan hanya dengan satu kata yaitu syukur karena baginya syukur mampu menguatkan hati serta sadar akan apa yang terjadi padanya, sadar bahwa apa yang sedang terjadi pada keluarganya dan sadar dengan apa yang terjadi pada tetangganya karena sesungguhnya kemiskinan dan kekayaan hanyalah cobaan yang Allah berikan. Kemiskinan yang dialaminya tak urung membuatnya merasa dibawa dan tidak ada apa-apanya namun justru dengan keadaan yang seperti itulah menjadi motifasi baginya untuk menjadi orang yang besar dan dan bermimpi untuk menggapai langit. 

Diantara keempat bersaudara tidak ada satupun diantara mereka yang merasa bahwa dirinya malu dengan apa yan sedang iya miliki. Kesederhanaan, rumah yang reok, pakaian yang compang camping menjadi pemandangan baginya yang iya harus terima setiap harinya. Pantang baginya mengatakan kata mengeluh, kata putus asa, dan bosan akan keadaan yang dimilikinya. Baginya kesederhanaan adalah menjadi harta kekayaan yang dimiliki untuk menuju taraf yang lebih tinggi, iya selalu mengingat dan memegang teguh perkataan dari orang tuanya bahwa “hari ini boleh kita tidak memiliki apa-apa namun bukan berarti esok kita juga harus seperti ini, kalian adalah harapan bagi kami untuk kita menggapai langit diesok hari” perkataan tersebut menjadi motifasi baginya untuk menjadi lebih baik dihari kemudian. Tak ada yang ingin iya lakukan selain kebahagiaan kedua orang tuanya karena baginya kebahagiaan kedua orang tuanya adalah kebahagiaan yang utuh bagi mereka, cita-cita yang selalu mendorongnya menjadi lebih baik, sekolah tak pernah iya permainkan dan bahkan iya bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu karena iya brfikir bahwa ilmulah yang akan mengangkat taraf hidupnya untuk menjadi lebih baik, iya selalu temotifasi oleh kata kata ayahnya yang mengatakan “dari kecil ayah tidak memiliki apa-apa semua milik ayah telah dirampas oleh keluarga sekolah pun ayah tidak mampu, hingga akhirnya saya hanya bisa terima kenyataan namun sekarang selagi saya masih hidup kamu harus tetap bersekolah dan meraih gelar sarjana karena tak ada yang mampu ayah berikan selain ilmu yang kamu dapatkan disekolamu” dari perkataan tersebut menjadi motifasi untuk lebih baik dan meraih langit di esok harinya


Diberdayakan oleh Blogger.

 

© 2013 ARTIKEL PIYE KABARE. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top