Tampilkan postingan dengan label tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tasawuf. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 April 2014

yang terlupa dalam shalat dan cara menggantinya serta pelajaran yang dapat dipetik

islam tak akan mati
Dalam melaksanakan shalat mungkin ada hal-hal yang terlupakan misalnya;
  • Lupa melaksanakan yang Fardhu
Bila yang terlupakan itu fardhu maka tidak cukup diganti dengan sujud sawi bila ia ingat ketika sedang shalat, maka haruslah cepat-cepat ia melaksanakannya. Bila ingat setelah salam, sedang jarak waktunya masih sebentar, wajiblah baginya mengulangi (menunaikan) apa yang terlupakan, lalu sujud sawi (sujud sunah karena lupa) sebelum salam.
  • Lupa melaksanakan sunah Ab’adh,
Jika yang terlupakan itu sunah ab-adh, kita tidak perlu mengulangi apa yang terlupakan itu,kita meneruskan shalat itu sampai selesai, dan sebelum salam kita disunahkan sujud sawi.
  • Lupa melaksanakan Sunah hai’at
Jika yang terlupakan itu sunah hai’at, maka tidak perlu diulangi apa yang terlupakan itu dan tidak perlu sujud sawi. Sujud sawi itu hukumnya sunah, dan letaknya sebelum salam, dikerjakan dua kali sebagaimana sujud biasa.

Apabila orang bimbang atau ragu tentan bilangan jumlah raka’at yang telah dilakukan, haruslah ia menetapkan dengan yakin, yaitu yang paling sedikit dan hendaklah ia sujud sawi.

Beberapa Pelajaran dari Kewajiban Shalat
  • Shalat merupakan syarat menjadi taqwa.
Taqwa merupakan hal pyang penting dalam islam karena dapat menentukan tingkah laku manusia, orang-orang yang betul-betul taqwa tidak mungkin melakukan perbuatan keji dan mungkar, dan salah satu syarat orang yang betul-betul taqwa adalah mendirikan shalat sebagaimana firman tuhan dalam surat Al-Bakarah ayat; 43,dan 110, Surat Al- Ankabut ayat; 45,dan surat An-Nuur, ayat; 56 .
  • Shalat merupakan benteng kemaksiatan
Shalat sebagai benteng kemaksiatan artinya Shalat dapat mencega perbuatan keji dan mungkar. Semakin baik kwalitas shalat seseorang maka semakin efektif pula benteng pertahanannya untuk memelihara dirinya dari perbuatan maksiat.
  • Shalat mendidik perbuatan baik dan jujur
Shalat akan mendidik perbuatan baik seseorang apabila dilaksanakan secara khusuk. Banyak orang-orang yang shalat celaka, karena lalai akan shalatnya. Selain mendidik perbuatan baik Shalat juga mendidik perbuatan jujur dan tertib, orang yang mendirikan shalat dengan baik tidak .mungkin meninggalkan syarat dan rukunnya, karena apabila salah satu syarat atau rukunnya ditinggalkan maka shalatnta akan batal atau tidak sah.
  • Shalat akan membangun etos kerja
Sebagaimana keterangan di atas bahwa pada intinya shalat merupakan penentu apakah orang-orang itu baik atau buruk, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di tempat dimana mereka bekerja. Apabila ia melaksanakan shalat dengan khusuk dan ikhlas karena Allah, maka hal ini akan mempengaruhi terhadap etos kerja, mereka tidak akan melakukan koropsi atau tidak jujur dalam bekerja melaksanakan tugas.

Selasa, 07 Januari 2014

Rabiah Al-adawiyah beserta tasawufnya

KATA PENGANTAR
    Alhamdulillahil ladzi hadaanan lihadza, wamaa kunna linahtadiya laulaa an hadaa nallaha, washalatu wassalamu alaa sayyidina rasulillah muhammad bin abdillah, wa alaa aalihi wasahbihi waman tabi’a hudaa ila yaumi yalqahuu.
    Dengan mengucap syukur alhamdulillah atas segala karunia dan nikmatnya kini kami dapat menyajikan kepada sekalian pembaca . sebuah karya ilmiah yang berjudul “Mu’tazilah”
     Kami sadar bahwa dalam penyusunan karya ilmiah ini masih banyak terdapat khilafan dan kekurangan oleh karena itu saran maupun kritik yang tentunya bersifat konstruktif kiranya dapat diberikan oleh pembaca untuk menjadi bahan evaluasi bagi penulis guna kesempurnaan karya-karya selanjutnya
    Semoga Allah swt menerima karya ini sebagai amal bakti kepadanya. Akhirnya hanya kepada Allah kami mohon taufik dan hiayah.
    Dan hanya kapada Allah-Lah tempat meminta agar ia memberikan manfaat kepada makalah ini AMIN.









Gowa, 2 desember 2013

PENULIS
 

 
 
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
    Wahai Tuhanku, jika aku menyembah-Mu, karena takut dari siksa neraka-Mu ,maka bakarlah diriku dengan api itu. Dan jika menyembah-Mu karena mengharapkan masuk ke surga-Mu, maka haramkanlah surga itu dari diriku. Namun, jika aku menyembah-Mu, karena cinta kepada-Mu, maka berikanlah balasan-Mu yang besar itu kepadaku. Izinkan aku menyaksikan wajah-Mu Yang Agung dan Mulia.
   Syair di atas adalah do’a yang dipanjatkan oleh Rabi’ah al-Adawiyah, nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin. Seorang perempuan yang mencapai derajat luhur dalam perjalanan sejarah sufi. Beliau memperoleh penghargaan tinggi, namanya tertulis dengan tinta emas dalam lembaran sejarah. Prestasi taqwa dan zuhud yang ia miliki telah mengangkatnya pada kedudukan luar biasa, yang tak pernah dicapai oleh perempuan manapun.
    Rabi’ah adalah perempuan sufi yang dianggap sebagai perintis aliran tasawuf Hubbul Illahiyah. Beliau mengajak manusia berbagi rasa dalam bertaqwa. Mencintai Allah melebihi segala yang ada. Mengesampingkan urusan dunia yang bersifat sementara dan fana. Setiap langkah perjalanan waktu diprioritaskan kepada ibadah serta mencintai Allah Swt. Di lubuk hati yang paling dalam tak pernah tersentuh perasaan cinta, kecuali cinta kepada Allah.
     Diantara ucapan beliau yang terkenal adalah sebagaimana diriwayatkan dalam Kasyf al-Mahjub karya al_Hujwiri : “suatu ketika aku membaca cerita bahwa seorang hartawan berkata kepada Rabi’ah: mintalah kepadaku segala kebutuhannmu! Jawab Rabi’ah: aku ini begitu malu meminta hal-hal duniawi kepada Yang Pemiliknya, maka bagaimana bisa aku meminta hal itu kepada yang bukan pemiliknya?”

B. RUMUSAN MASALAH
1. Biografi Rabiah Al-Adawiyah !
2. Bagaimana bentuk ajaran tasawuf Rabiah Al-Adawiyah ?
 
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Rabi’ah al-Adawiyah
     Menurut Ibnu Khalikan, nama lengkap Rabi’ah al-Adawiyah adalah Ummul Khair Rabi’ah binti Isma’il al-Adawiyah al-Qisiyah.[4] Dia dilahirkan sekitar awal abad kedua Hijrah di kota Basrah Iraq. Para ahli sejarah mengatakan bahwa dia dilahirkan pada tahun dimana Hasan Bashri memulai mengadakan majlis ta’limnya. Peristiwa itu terjadi pada tahun 95 H atau 96 H.[5] Yang kemudian dikutip oleh Margaret Smith dalam disertasinya yang berjudul Rabi’ah the Mystic & Her Fellow – Saints in Islam, yang menulis bahwa Rabi’ah mungkin lahir sekitar tahun 95-99 H di Bashrah, di mana ia banyak menghabiskan kehidupannya di sana.[6] Dalam Ensiklopedi Islam, ditulis bahwa Beliau lahir tahun 95 H atau 713 M.[7]
     Pada awal abad ke-2 Hijrah, Iraq telah membangkitkan getar hati manusia dengan semangat dan kekuatan peradaban kehidupan. Kota Bashrah ketika itu bagaikan bintang yang berkelap-kelip di Iraq. Kota itu telah terbuka pintu-pintunya bagi para ulama dan pemikir, kota itu benar-benar menjelma menjadi tempat berkumpulnya keagungan raja-raja Persia dengan barang-barang mewahnya, hingga kota itu bergelimang penuh dengan kemewahan, keagungan dan keindahan. Keadaan hidup masyarakat Islam dalam pemerintahan Bani Umaiyah waktu itu, yang sebelumnya terkenal dengan ketaqwaan telah mulai berubah. Pergaulan semakin bebas dan orang ramai berlumba-lumba mencari kekayaan. Justru itu kejahatan dan maksiat tersebar luas. Pekerjaan menyanyi, menari dan berhibur semakin diagung-agungkan. Maka ketajaman iman mulai tumpul dan zaman hidup wara’ serta zuhud hampir lenyap sama sekali.
    Dalam kehidupan mewah yang menakjubkan, yang gemerlap antara keimanan dan pengetahuan, di antara senda gurau dan harta berlimpah, hiduplah sekelompok kaum miskin yang terpencil dari mereka. Di antara ratusan gubuk yang bertebaran di pinggiran kota Bashrah, di mana kaum miskin hidup, terdapat sebuah gubuk kecil sederhana. Seluruh penduduk Bashrah mengenalnya sebagai Kukh al-‘Abidah (gubuk ahli ibadah). Setiap tahunnya, gubuk ini menyambut seorang bayi perempuan cantik yang menguras air mata dari ibunya, karena sang ibu melihatnya sebagai beban penderitaan yang baru. Sedangkan sang suami, menyambut sang bayi dengan senyuman dan rasa syukur, sebab ia hanya melihat segala yang berasal dari Tuhan Yang Qadim, adalah nikmat dan kebaikan belaka.[8]
     Rabi’ah lahir di dunia tanpa panggilan yang indah dan menawan. Cukup “Anak keempat”, yang dalam bahasa Arab disebut Rabi’ah. Ia tidak memiliki nama bagus sebagaimana lazimnya anak yang lahir pada masanya. Namanya sekedar pernyataan bahwa ia anak keempat dari keluarga Ismail al-Adawi.[9]
Fariduddin Al-Aththar (513 H – 627 H), Penyair mistik Persia, dalam melukiskan keprihatinan Rabi’ah menulis bahwa ia dilahirkan di rumah, dimana tidak ada sesuatu pun yang dapat dimakan dan yang dapat dijual. Malam gelap gulita gulita karena minyak untuk penerangan juga telah habis.[10]
    Al-Aththar juga mengemukakan sebuah cerita mengenai pertumbuhan Rabi'ah yang suci dan penuh ketakwaan, bahwa Rabi'ah telah mengenal halal-haram pada saat memasuki usia bermain dan bercengkrama. Ia tumbuh bersama dengan cahaya ilahi, dan telah menghafalkan Al-Qur'an serta senantiasa memelihara waktu shalat pada saat ia berada dalam usia yang masih belia.[11]
    Rabi'ah wafat saat ia menginjak remaja. Beberapa waktu kemudian wafat pula ibunya, sehingga Rabi'ah merasakan kepahitan hidup sebagai yatim piatu yang sempurna, tanpa ayah dan tanpa ibu. Kedua orang tuanya tidak meninggalkan harta apapun, sehingga penderitaan Rabi'ah semakin bertumpuk, tidak merasakan cinta dan kasih sayang kedua orang tuanya. Ketika kota Bashrah mengalami kemarau, Rabi'ah Adawiyah dan saudara-saudaranya meninggalkan gubuk, menyusuri jalan mencari sesuap nasi. Nasib memisahkan Rabi'ah dengan saudara-saudaranya.[12]
     Ketika itu Rabi'ah sedang berjalan seorang diri menelusuri lorong jalan kota Bashrah. Tiba-tiba seseorang menyekap dan menculiknya. Mulutnya dibungkam dengan sehelai kain. Kemudian ia dibawa, dan dijual dengan harga enam dirham.[13]
    Kemerdekaan Rabi'ah telah dirampas. Kini ia sebagai hamba sahaya (budak). Menjadi pembantu di rumah orang yang telah membelinya. Lelaki yang bengis, biadab, kejam dan tak punya rasa belas kasih. Tubuh Rabi'ah semakin kering kerontang. Ia diperlakukan dengan kasar. Makanan yang diberikan hanyalah sisa-sisa mereka. Pakaiannya pun hanya sepotong kain yang sudah compang-camping. Meskipun demikian, betapapun pahitnya kehidupan yang dijalani, tetap diterimanya dengan tabah dan sabar. Shalat malam tetap dilakukan secara rutin, dan lisannya tak pernah berhenti dari zikir. Istighfar merupakan senandung yang selalu didendangkan.
     Musibah yang bertubi-tubi malah menjadi motivasi bagi Rabi'ah untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah. sebab dengan ibadah itulah ia dapat melupakan semua penderitaan dan kesengsaraan yang dialami. Penderitaan lahir batin ia lalui dengan penuh kesabaran dan tawakal kepada Allah. Ia senantiasa bermunajat, bertasbih dan beristighfar. Saat munajat kepada Allah, air matanya mengalir dari kelopak sucinya. Ia tidak memohon kepada Allah untuk membebaskannya dari siksaan yang ia hadapi, tetapi ia hanya ingin mengetahui satu hal, apakah Tuhannya telah ridha kepadanya, ataukah tidak ridha ? Rabi'ah Adawiyah tidak menginginkan apapun selain keridhaan dari Allah.[15]
     Pada suatu malam, tuannya terjaga dari tidur, dan melalui jendela melihat Rabi'ah sedang sujud dan berdo’a, “Ya Allah, Engkau tahu bahwa hasrat hatiku adalah untuk dapat mematuhi perintah-Mu; jika aku dapat mengubah nasibku ini, niscaya aku tidak akan beristirahat barang sebentar pun dari mengabdi kepada-Mu.” Menyaksikan peristiwa itu, ia merasa takut, semalaman termenung sampai terbit fajar. Pagi-pagi sekali ia memanggil Rabi'ah, bersikap lunak padanya, dan membebaskannya.[16] Setelah menikmati kebebasan, Rabi'ah menjalani kehidupan sufistik, beribadah dan berkhalwat (menyepi), lebih memilih kemiskinan daripada gemerlapan kehidupan duniawi. Ia hidup menyendiri, tidak menikah, dan enggan menerima bantuan materiil dari orang lain. Dengan sikap dan kesalehannya itu, namanya sebagai orang suci dan pengkhotbah makin lama makin harum. Ia dihormati oleh orang-orang zuhud semasanya dan sering dikunjungi untuk tukar-menukar pengalaman mengenai masalah kesufian. Para sufi yang sering berkunjung antara lain Malik bin Dinar (w. 171 H), Sufyan as-Sauri (97-176 H), Syaqiq al-Balkhi (w. 194 H/810 M), dan lain-lain.
     Rabi'ah memilih menempuh jalan hidup sendirian tanpa menikah, hanya mengabdi kepada Allah SWT. Pengalaman kesufian ia peroleh bukan melalui guru, melainkan melalui pengalamannya sendiri. Ia tidak meninggalkan ajaran tertulis langsung dari tangannya sendiri, akan tetapi ajarannya dikenal melalui para muridnya, dan baru dituliskan setelah ia wafat.
     Terdapat beberapa keterangan mengenai tahun kematian Rabi'ah. Ada yang menyebut 135 H/752 M, yang lain menyebut 185 H/801 M. Menurut Ibn Jawzi dalam kitab Shodhur al-‘Aqud, Abu al-Mahasen Taghriberdi dalam kitab an-Nujum al-Zahira, dan Ibnu Ahmad Hambali dalam kitab Shadhar at al-Dhahab, dikatakan bahwa Rabi'ah wafat pada tahun 135 H. Sedangkan menurut Abdur Ra’uf al-Munawi dalam kitab Tabaqat al-Auliya, dikatakan bahwa Rabi'ah wafat tahun 180 H. [18] Menurut Louis Masisignon, Rabi'ah meninggal pada usia tidak kurang dari 80 tahun, yakni pada tahun 185 H (801 M).[19] Pendapat tersebut dikutip oleh Margaret Smith, dimana ia mengatakan bahwa, Rabi'ah al-Adawiyah wafat pada tahun 185 H (801 M) dan ia dimakamkan di Bashrah.[20] Dan pendapat yang terakhir inilah yang lebih kuat. Hal ini didasarkan bahwa Rabi'ah( wafat pada tahun 185 H) adalah persahabatannya dengan Rabah, dan pertemuannya dengan Sufyan al-Tsauri yang datang ke Bashrah sesudah tahun 155 H. Dan juga cerita tentang lamaran Sultan Muhammad bin Sulaiman yang menjadi Gubernur Bashrah dari dinasti Abbasiyah sejak tahun 145 H sampai dengan tahun 172 H.[21]

B. Ajaran Tasawuf Rabi’ah al-Adawiyah
    Ajaran-ajaran Rabi'ah tentang tasawuf dan sumbangannya terhadap perkembangan sufisme dapat dikatakan sangat besar. Rabi'ah memang identik dengan “cinta” dan “air mata”, identik dengan citra dan kesucian. Tidak berlebihan apabila sepanjang zaman para pengkaji sejarah tasawuf, bahkan para penempuh jalan Sufi sendiri, merasakan adanya kekurangan manakala belum “menghadirkan” spirit Rabi'ah dalam ulasan dan kontemplasinya. Sebagai seorang guru dan panutan kehidupan sufistik, Rabi'ah banyak dijadikan panutan oleh para Sufi, dan praktis penulis-penulis besar Sufi selalu membicarakan ajarannya dan mengutip syair-syairnya, sebagai seorang ahli tertinggi. Di antara ajaran-ajarannya adalah mahabbah, taubat, zuhud, dan sabar.

1. Mahabbah
Mahabbah (rasa cinta) adalah keinginan untuk memberikan barang yang terbaik yang dimilikinya yakni hatinya, kepada kekasih. Cinta adalah kesatuan niat, kemauan dan cita-citanya dengan sang kekasih.[22]
Cinta (mahabbah) kepada Allah adalah tujuan puncak dari jenjang-jenjang sufisme. Di dalamnya terkandung unsur Kepuasan Hati (ridha), Kerinduan (syauq), dan Keintiman (uns). Ridha mewakili – pada satu sisi – ketaatan tanpa disertai adanya penyangkalan, dari seorang pecinta terhadap kehendak Yang Dicinta, syauq adalah kerinduan sang pecinta untuk bertemu dengan Kekasih, dan uns adalah hubungan intim yang terjalin antara dua kekasih spiritual itu. Dari tahap cinta ini seorang ahli akan langsung meraih ma’rifat, dimana ia akan mampu menyingkap keindahan Allah dan menyatu dengan-Nya, suatu penyatuan yang terjadi bukan hanya di dunia saja, tetapi abadi hingga kehidupan akhirat.[23]
     Seorang pecinta, sebagaimana dikatakan oleh Abu Nashr al-Siraj, berada dalam tiga al-ahwal (kondisi atau tahapan) sebagai berikut : Tahapan pertama dari mahabbah adalah mahabbah al-‘Ammah (cinta kaum awam), dari cinta tersebut lahirlah kebaikan Allah dan kasih sayang-Nya kepada mereka. Tahapan kedua adalah mahabbah al-Shadiqin wa al-Mutahaqiqin, yaitu cintanya orang-orang yang jujur dan terpercaya. Cinta ini terlahir karena pandangan hati kepada kekayaan Allah, kemuliaan-Nya, keagungan-Nya, ilmu-Nya, kekuasaan-Nya. Tahapan ketiga adalah mahabbah al-Shiddiqin wa al-‘Arifin, yaitu cintanya kaum orang-orang yang jujur dan ahli makrifat. Cinta ini lahir dari pandangan dan makrifat mereka atas sifat qadim-Nya cinta Allah tanpa adanya sebab. Oleh karena itu merekapun mencintai Allah tanpa sebab.[24]
Rabi'ah dipandang sebagai pelopor tasawuf mahabbah (cinta mistik), yaitu penyerahan diri total kepada “Kekasih” (Allah). Hakikat tasawufnya adalah habbul-illah (mencintai Tuhan Allah SWT).[25] Ia senantiasa beribadah kepada Allah tanpa mengharapkan surga, yang mengandung segala kelezatan bagi nafsu, dan bagi pandangan mata. Ia beribadah juga bukan disebabkan oleh karena takut terhadap neraka yang apinya menyala-nyala. Sesungguhnya Rabi'ah Adawiyah beribadah kepada Allah, dalam keadaan cinta kepada Allah, cinta terhadap Dzat-Nya yang suci.[26] Ia tidak mau menjadi seperti seorang buruh yang jahat, yang apabila diberi upah merasa senang dan apabila tidak diberi upah lantas membenci. Ia juga tidak mau seperti seorang budak yang bekerja karena cambuk atau karena uang. Rabi'ah Adawiyah ingin agar manusia mengikuti jejaknya, berjalan di atas pijakan yang ia tempuh. Maksudnya, mereka menyembah Allah karena Dzat-Nya itu sendiri, bukan karena takut kepada neraka-Nya, atau karena tamak untuk mendapatkan surga-Nya.
     Terkadang, ia menjelaskan sikapnya ini dengan tamsilan. Suatu hari, orang melihat Rabi'ah membawa air di tangan kiri, dan api di tangan kanannya. Orang pun bertanya, “Kemana engkau, Rabi'ah?” dengan tangkas Rabi'ah menjawab, “Saya mau ke langit untuk membakar surga dan memadamkan api neraka, agar keduanya tak menjadi sebab manusia menyembah-Nya”. Tentu saja orang awam heran melihat perilaku Rabi'ah yang tak masuk akal itu. Bukankah membakar surga dengan api dunia atau memadamkan api neraka dengan air dunia adalah kemustahilan ? Tapi orang-orang yang berilmu mengerti bahwa apa yang tersirat di balik perilaku Rabi'ah itu. Mereka tahu, ini adalah salah satu caranya, agar manusia menyembah Allah dengan ikhlas – bukan menyembah-Nya karena surga atau takut neraka.[27]
Apa yang diajarkan Rabi’ah melalui mahabbah-nya, sebenarnya tak berbeda jauh dengan yang diajarkan Hasan al-Bashri dengan konsep khauf (takut) dan raja’ (harapan). Hanya saja, jika Hasan al-Bahsri mengabdi kepada Allah didasarkan atas ketakutan masuk neraka dan harapan untuk masuk surga, maka mahabbah Rabi’ah justru sebaliknya. Ia mengabdi kepada Allah bukan lantaran takut neraka maupun mengharapkan balasan surga, namun ia mencinta Allah lebih karena Allah semata. Sikap cinta kepada dan karena Allah semata ini misalnya tergambar dalam sya’ir Rabi’ah sebagai berikut : Wahai Tuhanku, jika aku menyembah-Mu, karena takut dari siksa neraka-Mu ,maka bakarlah diriku dengan api itu. Dan jika menyembah-Mu karena mengharapkan masuk ke surga-Mu, maka haramkanlah surga itu dari diriku. Namun , jika aku menyembah-Mu,karena cinta kepada-Mu, maka berikanlah balasan-Mu yang besar itu kepadaku. Izinkan aku menyaksikan wajah-Mu Yang Agung dan Mulia.[28]

2. Taubat
Bertaubat dari dosa-dosa dengan kembali Tuhan Yang Maha Menutupi segala aib dan Maha Mengetahui segala kegaiban, adalah dasar jalan orang-orang yang menuju Allah (al-Salikin) dan merupakan modal orang-orang yang beruntung. Taubat adalah langkah awal dari kaum al-Muridin (para pelaku tasawuf), serta merupakan jenjang pertama dari jenjang-jenjang kaum al-Thalibin (penuntut ilmu tasawuf). Dan, seluruh jenjang didirikan di atas dasar jenjang taubat.
     Taubat adalah perjuangan melawana hawa nafsu untuk menjadi benar dan kembali ke jalan-Nya. Taubat menuntut ditinggalkannya segala kemaksiyatan saat itu juga (segera). Juga menuntut komitmen untuk meninggalkannya pada masa yang akan datang, serta pengurangan secara bertahap terhadap kondisi buruk. Sikap menyesal terhadap dosa yang telah lalu, serta bersedih atas keadaan seperti itu hukumnya adalah wajib, sebab itu adalah esensi dari taubat.[29]
     Rabi'ah mengajarkan bahwa dosa itu sangat menyakitkan, sebab ia mampu memisahkan jiwa dengan Yang Dicinta. Keyakinan bahwa dosa itu adalah penghalang antara seorang hamba dengan seorang Tuhannya yang akan membimbing pada jalan kesedihan yang saleh, yaitu perasaan dosa yang mendalam. Kesedihan semacam itu tampak jelas padanya sebagai tanda-tanda kesedihan dari luar, misalnya menangis terus-menerus, ciri semacam ini tampak pada Rabi'ah dan juga para Sufi lainnya sebagai tanda kesalehan, penyesalan terhadap dosa-dosa atas perbuatan dan kelalaiannya, dan semua ini akan membakar kesedihan terus-menerus sehingga tidak ada tempat lagi bagi kesenangan dunia. Dosa bagi Rabi'ah adalah membangkitkan rasa benci, karena dengan itu akan menyebabkan terpisah antara dirinya dengan Allah, dan bukannya akan menyebabkan hukuman di neraka kelak.[30]
       Menurut Rabi'ah, taubat adalah suatu jenjang dan hal sekaligus. Sebab taubat merupakan ciri abadi kaum beriman. Syarat taubat adalah al-Shidqu (jujur) dan al-Inabah (kembali ke jalan Tuhan). Sebab permohonan ampunan tanpa bersikap tegas mencabut diri dari perbuatan dosa adalah taubatnya orang-orang pendusta dan hal itu merupakan cara yang biasa dilakukan oleh orang-orang munafik. Ketika seseorang berkata kepada Rabi'ah Adawiyah , “aku telah banyak berbuat dosa dan kemaksiyatan. Apakah Allah benar-benar akan menerima taubatku?” Rabi'ah Adawiyah berkata, “tidak. Justru yang benar adalah jika Allah telah menerima taubatmu, pasti engkau akan bertaubat”. Dengan demikian, Rabi'ah Adawiyah menetapkan suatu teori tasawuf, “Bahwa orang tidak menempuh suatu jalan, melainkan hal itu karena hidayah dari Allah. Rabi'ah Adawiyah memandang bahwa taubat adalah merupakan suatu penghormatan dan pemberian dari Allah kepada hamba-hamba tertentu yang dikehendaki-Nya.[31]

3. Zuhud
     Bersikap zuhud di dalam kehidupan dunia adalah jenjang (kedudukan) yang mulia, dan termasuk salah satu dari sekian jenjang kaum suluk. Setiap orang yang menjual dunia dengan akhirat adalah orang yang zuhud terhadap dunia. Dan orang yang tidak mencintai sesuatu selain Allah, bahkan surga-surga, dan hanya cinta kepada Allah, maka ia disebut ahli zuhud mutlak. Inilah derajat tertinggi. Rabi'ah Adawiyah adalah seorang zahid yang menjalani hidup dengan kemiskinan dan pengingkaran diri (nafsu) hingga akhir hayatnya. Sahabat-sahabatnya berulangkali membujuknya untuk memberikan bantuan dan mengangkatnya dari kemiskinan, tetapi ia tidak pernah bersedia menerima uluran tangan mereka dan hanya menyibukkan diri melayani Tuhannya.
      Al-Imam Ahmad membagi zuhud menjadi tiga, Pertama, meninggalkan yang haram, yakni zuhudnya kaum ‘awam; Kedua, meninggalkan kelebihan dari yang halal, yakni zuhudnya kaum Khawwash; Ketiga, meninggalkan sesuatu yang dapat memalingkan hamba dari Allah. Inilah zuhud ahli makrifat. Dan zuhudnya Rabi'ah Adawiyah adalah zuhud yang terakhir (ketiga), karena ia selalu mendendangkan keridhaan Allah.[32] Dunia tidak ada dalam hati dan pemikiran Rabi'ah. Sehingga ia merasa malu meminta kepada Allah, karena ia bukanlah apa-apa. Karenanya, bagaimana mungkin ia akan menerima apalagi meminta sesuatu dari makhluk-Nya.
       Malik bin Dinar memperbincangkan sikap zuhud dan tawakkal yang dimiliki Rabi'ah sebagai berikut :
“Suatu hari ia datang ke rumah Rabi'ah. Saat itu Rabi'ah sedang minum air dari bejana yang pecah. Tikar yang terbentang sudah kumuh, sementara yang dijadikan bantal tidurnya sebuah batu. Melihat kenyataan itu Malik tak tahan, lalu usul, “Wahai Rabi'ah, banyak kawan-kawan saya yang kaya raya. Sudikah engkau menerima pemberian mereka?”. Dengan tegas ia menjawab, “Wahai Malik, ucapanmu itu sangat tidak menyenangkan hatiku, dan itu memang ucapan yang salah. Yang memberi rezeki kepada kawan-kawanmu yang kaya raya itu adalah Allah yang juga telah memberi rezeki kepadaku. Apakah engkau akan mengatakan bahwa hanya orang-orang kaya saja yang memperoleh rezeki, sementara orang-orang miskin tidak? Kalau Allah mentaqdirkan kondisi kita begini, maka tugas yang perlu kita laksanakan adalah menerimanya dengan penuh tawakkal”.[33]
     Itulah ilustrasi kezuhudan Rabi'ah Adawiyah, prinsip dan pendiriannya dalam mensikapi harta dan pemberian dari sesama manusia. Sekiranya Rabi'ah tidak menjauhkan diri dari kesenangan dunia, tentu ia menjadi orang yang paling mudah memperoleh kekayaan. Sejak mula ia telah menolak lamaran Raja Bashrah, yakni Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi,[34] untuk dijadikan permaisuri. Sekiranya lamaran itu diterima, sudah barang tentu Rabi'ah menjadi wanita terkaya di negeri Bashrah. Namun, bukan itu tujuan hidupya. Kecintaan kepada Allah melebihi segalanya, dan menafikan cintanya kepada makhluk-Nya.

4. Sabar
     Sabar adalah sikap menahan diri terhadap sesuatu yang tidak disukai, atau menanggung sesuatu yang tidak disukaia dengan bentuk keridhaan atau penerimaan, serta menanggung rintangan dalam Dzat Allah.[35] Sedangkan sabar menurut Ensiklopedi Islam adalah menahan diri dalam menanggung suatu penderitaan, baik dalam menemukan sesuatu yang tidak diingini ataupun dalam bentuk kehilangan sesuatu yang disenangi.[36] Sabar merupakan kondisi mental dalam mengendalikan diri, maka sabar merupakan salah satu maqam (tingkatan) yang harus dijalani oleh seorang Sufi dalam mendekatkan diri kepada Allah. Maqam sabar biasanya diletakkan sesudah zuhud. Karena orang yang dapat mengendalikan dirinya dalam menghadapi kelezatan duniawi berarti ia telah berusaha menahan diri dari kelezatan tersebut. Keberhasilannya dalam maqam zuhud akan membawanya ke maqam sabar. Dalam maqam sabar ini tidak lagi tergoncang oleh penderitaan dan hatinya sudah betul-betul teguh dalam menghadap Allah.. Sabar mempunya tiga unsur, yaitu ilmu, hal, dan amal. Yang dimaksud dengan ilmu di sini ialah pengetahuan atau kesadaran bahwa sabar itu mengandung kemaslahatan dalam agama dan memberi manfaat bagi seseorang dalam menghadapi segala problem kehidupan. Pengetahuan yang demikian seterusnya menjadi milik hati. Keadaan hati yang memiliki pengetahuan demikian disebut hal. Kemudian hal tersebut terwujud dalam tingkah laku. Terwujudnya hal dalam tingkah laku disebut amal. Al-Ghazali mengumpamakan tiga unsur kesabaran itu laksana sebatang pohon kayu. Ilmu adalah batangnya, hal sebagai cabangnya, dan amal menjadi buahnya.[37]
Abu Thalib membagi kesabaran menjadi tiga tahapan, sebagaimana pandangan kaum sufi. Pertama, menghentikan keluhan, dan ini termasuk dalam tahapan pertobatan. Kedua, merasa puas dengan apa yang telah ditentukan oleh Allah, dan ini adalah tingkatan dalam asketisisme atau zuhud. Ketiga, menerima dan menyenangi semua yang telah ditentukan oleh Allah kepada kita, dan ini termasuk dalam tahapan seorang sahabat sejati Allah.[38]
     Untuk mengetahui ajaran tentang sabar oleh Rabi'ah Adawiyah dapat diketahui dengan jelas dalam setiap rentang kehidupannya, bahkan pada saat ia di usia anak kecil. Ketika itu ia duduk bersama dengan keluarganya pada saat makan malam. Sebelum menyantap hidangan yang sudah tersedia, Rabi'ah memandang ayahnya seraya berkata, “ Ayah, yang haram selamanya tak akan menjadi halal. Apalagi hanya karena ayah merasa kewajiban memberi nafkah kepada kami”. Ayah ibunya terperanjat mendengar kata-kata Rabi'ah. Makanan yang sudah di mulut tak jadi dimakan. Ia pandang Rabi'ah dengan pancaran sinar mata yang lembut, penuh kasih. Sambil tersenyum ia berkata, “Wahai Rabi'ah, Bagaimana pendapatmu sekiranya ayah tidak menemukan makanan kecuali yang haram?”. Dengan tangkas Rabi'ah menjawab, “ Kita harus banyak bersabar. Karena menahan lapar di dunia jauh lebih ringan dan lebih baik daripada menanggung siksa neraka di akhirat”.[39]
    Pada saat berada dalam perbudakan, Rabi’ah selalu bermunajat kepada Tuhannya : Tuhanku, aku adalah seorang yatim yang tersiksa, terbelenggu di rantai perbudakan. Aku selalu menanggung segala kepedihan, dan aku akan selalu bersabar menhannya. Akan tetapi ada siksaan yang lebih dahsyat dari siksaan ini, yang mengguratkan keperihan pada jiwaku dan meruntuhkan benteng kesabaranku di dalam diriku, yakni adanya keraguan yang berputar-putar di hatiku; (untuk selalu bertanya) Apakah Engkau ridha kepadaku? Itulah puncak keinginanku.[40]
    Dan untuk lebih memahami mengenai kesabaran Rabi'ah Adawiyah, tidak ada salahnya kita perhatikan kisah berikut :b suatu hari Sufyan al_Tsauri mengunjungi Rabi'ah pada saat ia sedang sakit. Lalu Sufyan al-Tsauri berkata padanya, “Berdoalah kepada Allah, semoga Dia akan meringankan rasa sakitmu”. Rabi'ah Adawiyah berkata, “Wahai Sufyan al-Tsauri, siapakah yang mendatangkan sakit ini?” Sufyan al-Tsauri menyahut, “Dialah Allah Swt”. Rabi'ah Adawiyah lalu berkata, “Jika sudah menjadi kehendak Allah untuk mengujiku dengan cobaan ini, maka bagaimana mungkin aku berani berhadapan dengan-Nya dengan berpura-pura tidak mengetahui kehendak-Nya”.
 
BAB III
ANALISIS
       Rabi'ah Adawiyah adalah orang pertama yang memindahkan konsep zuhud ke puncak sufisme. Ia adalah orang pertama yang mengubah konsep-konsep sufisme dari al-Khauf (takut) menjadi al-Hubb (cinta), dari al-Ra’b (ketakutan) menjadi al-Ma’rifah (mengenal), dari al-Hirman (penolakan) menjadi al-Ridha (pasrah), dari al-Qaswah (keras dan kaku) menjadi al-Isyraq (pujian).
     Semasa hidupnya, Rabi’ah menghabiskan hidupnya hanya untuk “mencintai Allah” tidak ada ruang kosong dalam hatinya untuk mencintai manusia, khususnya lelaki sebagai pendamping hidupnya. Beliau mengajarkan kepada umat Islam agar dalam melaksanakan ibadah senantiasa di dasari karena cinta kepada Allah bukan karena makhluk-Nya. Mahabah sebagai martabat untuk mencapai tingkat makrifat (ilmu yang dalam untuk mencari dan mencapai kebenaran dan hakikat) diperoleh Rabi'ah setelah melalui martabat-martabat kesufian, dari tingkat ibadah dan zuhud ke tingkat ridla, dan ihsan (kebajikan), sehingga cintanya hanya kepada Allah SWT.
     Cinta kepada Allah (mahabbatullah), dan cinta pada Rasul-Nya, merupakan seagung-agungnya kewajiban keimanan, sebesar-besarnya pokok keimanan, dan semulia-mulia dasar keimanan. Bahkan ia merupakan pokok setiap amal perbuatan dari segala perbuatan keimanan dan keagamaan. Setiap gerak dan perbuatan muncul dari mahabbah, baik itu dari mahabbah yang terpuji (mahmudah) maupun yang dari mahabbah yang tercela (madzmumah).[42] Seluruh amal perbuatan keimanan itu tidak lahir kecuali dari mahabbah mahmudah, yaitu cinta kepada Allah. Sementara amal yang lahir dari mahabbah madzmumah di sisi Allah itu tidak menjadi amal saleh.
     Rabi'ah adalah pelopor di dalam meletakkan kaidah-kaidah rasa cinta dan rasa sedih di dalam perkembangan tasawuf Islam. Dialah yang meninggalkan bisikan-bisikan kejujuran dalam mengungkapkan renungan tentang cinta dan kesedihannya. Puisi dan prosa mendominasi sastra Sufi sesudah masa Rabi'ah adalah bau semerbak dari sekian banyak keharuman Rabi'ah Adawiyah, sang pelopor dalam kecintaan dan kesedihan di dalam Islam. Orang yang mencintai secara sempurna tidak akan terpengaruh oleh celaan para pencela dan hinaan para penghina. Malah hal itu menjadikannya terdorong untuk mengokohkan mahabbahnya kepada Tuhannya.

A. Kontroversi Sekitar Kehidupan dan Ajaran Rabi'ah Adawiyah
Ketika kita mempelajari biografi dan ajaran Rabi'ah Adawiyah, maka akan kita temukan beberapa kontroversi, yang itu disebabkan oleh informasi mengenai biografinya ajarannya begitu sedikit, dan sebagiannya hanya bercorak mitos saja. Di antaranya tentang tahun wafatnya, pernah tidaknya Rabi’ah dilamar oleh Hasan al-Bashri, benarkah ia mengharamkah dirinya untuk menikah, dan pertemuannya dengan Dzunnun al-Mishri dsb.
1. Tahun wafatnyaa Rabi'ah Adawiyah
Terjadinya perbedaan tentang wafatnya Rabi'ah disebabkan oleh sebagian besar penulis sejarah yang khusus menulis biografi dan ajaran Rabi'ah Adawiyah tidak menyebut secara jelas kapan beliau lahir dan kapan ia wafat.[43] ada yang mengatakan tahun 135 H,[44] namun sebagian besar ahli sejarah berpendapat bahwa ia wafat pada tahun 185 H dalam usia kurang lebih 85 tahun.[45] Dan pemakalah memilih menggunakan pendapat yang kedua untuk menentukan tahun wafatnya Rabi'ah Adawiyah.
2. Pinangan Hasan al-Bashri
Ada beberapa tulisan yang menyatakan bahwa Rabi'ah pernah dipinang oleh Hasan al-Bashri, ulama sekaligus zahid besar di zamannya dari kota Bashrah yang sekaligus juga gurunya, dimana Rabi'ah mengajukan 4 pertanyaan yang apabila bisa dijawab oleh Hasan al-Bashri, maka ia bersedia menikah dengannya.[46] Menurut pemakalah sangatlah tidak logis, karena Hasan al-Bashri meninggal tahun 110 H, sedangkan Rabi'ah Adawiyah meninggal pada tahun 185 H, dalam usia tidak kurang dari 80 tahun, sebagaimana yang telah pemakalah bahas di atas. Jadi ada jarak sekitar 70 tahun antara keduanya. Tidak masuk akal kalau Rabi'ah dalam usia kurang dari 10 tahun telah menerima ajaran tasawuf dari Hasan al-Bashri serta tiba-tiba beralih dari kehidupan biasa ke arah kehidupan yang bersifat mistis dengan mengkonsentrasikan diri pada kezuhudan dan ibadah.
3. Pengharaman menikah untuk dirinya
Rabi'ah Adawiyah menerima banyak pinangan untuk menikah, tetapi ia tolak semua. Ia mengambil keputusan karena menurutnya, dengan tidak menikah itulah ia dapat melakukan pencarian tanpa ada hambatan. Cinta Rabi'ah kepada Allah telah memenuhi seluruh jiwa dan raganya. Ketika kepadanya ditanyakan mengenai cinta kepada Rasulullah, ia menjawab, “Aku, demi Allah sangat mencintai Rasul, akan tetapi cintaku kepada al-Khaliq (Maha Pencipta) telah memalingkan perhatianku dari sesama makhluk (segala ciptaan)”. Dan ketika ditanyakan mengapa menolak menikah sebagai salah satu sunah Rasulullah, maka ia menjawab bahwa dirinya adalah milik Allah yang dicintainya. Barangsiapa ingin memperisterikannya, maka hendaklah minta izin kepada Allah. Kaitannya dengan perkawinan, Rabi'ah berkata :
“Perkahwinan itu memang perlu bagi sesiapa yang mempunyai pilihan. Adapun aku tiada mempunyai pilihan untuk diriku. Aku adalah milik Tuhanku dan di bawah perintah-Nya. Aku tidak mempunyai apa-apa pun.”[47]
Jadi Rabi'ah tidak mengharamkan nikah, hanya saja karena harena hatinya telah diliputi rasa cinta kepada Allah, sehingga tidak tersisa sedikitpun ruang dalam hatinya untuk cinta kepada makhluk-Nya, termasuk cinta kepada seorang laki-laki untuk menjadi pendamping hidupnya.
4. Pertemuannya dengan Dzun Nun al-Mishri
Ada yang berpendapat bahwa Rabi'ah Adawiyah pernah bertemu dengan seorang Sufi dari Mesir yang bernama Dzun Nun al-Mishri. Pendapat ini sangat tidak logis, karena Rabi'ah Adawiyah hidup antara tahun 95 H sampai dengan 185 H, sedangkan Dzun Nun al-Mishri wafat pada tahun 245 H. Memang kalau kita lihat ada sedikit kemiripan pusisi atau syair yang dibuat oleh Rabi'ah dengan yang dibuat oleh Dzun Nun al-Mishri. Hal ini mungkin karena keduanya sama-sama Sufi dan menggunakan cinta sebagai media untuk mendekat kepada Allah.

B. Tinjauan Historis pemikiran Rabi'ah Adawiyah
     Pada awal abad ke-2 Hijrah, Iraq telah membangkitkan getar hati manusia dengan semangat dan kekuatan peradaban kehidupan. Kota Bashrah ketika itu bagaikan bintang yang berkelap-kelip di Iraq. Kota itu telah terbuka pintu-pintunya bagi para ulama dan pemikir, kota itu benar-benar menjelma menjadi tempat berkumpulnya keagungan raja-raja Persia dengan barang-barang mewahnya, hingga kota itu bergelimang penuh dengan kemewahan, keagungan dan keindahan. Keadaan hidup masyarakat Islam dalam pemerintahan Bani Umaiyah waktu itu, yang sebelumnya terkenal dengan ketaqwaan telah mulai berubah. Pergaulan semakin bebas dan orang ramai berlumba-lumba mencari kekayaan. Justru itu kejahatan dan maksiat tersebar luas. Pekerjaan menyanyi, menari dan berhibur semakin diagung-agungkan. Maka ketajaman iman mulai tumpul dan zaman hidup wara’ serta zuhud hampir lenyap sama sekali.
     Banyak orang-orang Islam yang telah tenggelam dalam kemewahan dan gemerlapnya dunia hingga melalaikan kewajibannya sebagai makhluk Allah yang diciptakan hanya untu beribadah. Hal inilah diantaranya yang menjadi motivasi bagi para Sufi saat itu, termasuk Rabi'ah Adawiyah, untuk meninggalkan segala tipu daya dunia demi mencapai kebahagiaan hakiki di akhirat nanti. Para Sufi, terlebih lagi Rabi'ah Adawiyah, menganggap bahwa cinta pada dunia hanyalah menjadi penghalang untuk dekat pada Allah. Dunia adalah hina, kekayaan dan kekuasaan hanyalah milik Allah, untuk itu tidak pantas bagi manusia untuk menyombongkannya apalagi sampai melupakan kepada Tuhannya. BAB IV

PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kecintaan (Mahabbah) Rabi’ah terhadap Allah menjadi sebuah hal yang tak terlukiskan. Apa yang dilakukannya sebetulnya merupakan ikhtiar seorang manusia untuk membiasakan diri ‘bertemu’ dengan penciptaNya. Disitulah ia memperoleh kehangatan, kesyahduan, kepastian dan kesejatian hidup. Sesuatu yang kini dirindukan oleh banyak orang. Menjadi pemuja Tuhan adalah obsesi Rabiah yang tidak pernah mengenal tepi dan batas. Tak heran jika dunia yang digaulinya bebas dari perasaan benci. Seluruhnya telah diberikan untuk sebuah pengejaran cinta yang agung dari Penciptanya. Ketika, kini, uang dan harta, tahta dan wanita, jabatan dan kedudukan, begitu didamba oleh banyak orang dan dipuja sebagai sumber kebahagiaan hidup, akankah kita ikut terlarut dalam euphoria cinta “salah kaprah” ini? Ketika Rabi’ah begitu jatuh bangun mengejar cinta Penciptanya, bersediakah kita jatuh bangun untuk mengejar Uang yang adalah benda mati ciptaan kita sendiri? Jawabannya ada pada hakekat tujuan hidup kita masing-masing.

B. SARAN
Karya ini adalah hasil buah tangan penulis yang masih sangat kurang ilmu pengetahuan, dan penulis juiga sangat menyadari bahwa dalam penulisan karya ini masih menyisakan banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, sebagai penulis kami mohon kerendahan hati dai para pembaca untuk memaklumi kekurangannya dan dihaapkan kesediaanya untuk memberikan kritik yang bersifat konstruktif untuk mejadi bahan evaluasi bagi penulis agar di kemudian hari dapat menulis dengan lebih sempurna.
 
DAFTAR PUSTAKA

 Abdul Mun’im Qandil, Figur Wanita Sufi : Perjalanan Hidup Rabi’ah Al Adawiyah, Surabaya, 1933.
 AJ. Siraaj, A.H. Mahmoud, Perawan Suci dari Basrah : Jenjang Sufisme Rabi’ah Adawiyah, Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta, 2003.
 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam Jilid 4, Cet. 4, Ichtiar Baru, Jakarta, 1997.
 Dr. Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazami, Sufi Dari Zaman ke Zaman : Suatu Pengantar Tentang Tasawuf , Pustaka, Bandung, 1985.
 Dr. Javad Nurbakhsh, Sufi Women, Khaniqahi-Nimatullahi Publications, New York, 1983.
 http://darisrajih.wordpress.com/2008/03/10/perindu-cinta-allah/#more-166.
 Ibnu Taimiyah, Risalah Tasawuf Ibnu Taimiyah, Penerbit Hikmah, Jakarta, 2002.
 Louis Massignon & Mustafa Abdur Raziq, Islam dan Tasawuf, Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta, 2001.
 Margaret Smith, M.A., Ph.D., Rabi’ah : Pergulatan Spiritual Perempuan, Risalah Gusti, Surabaya, 1997.

tasawuf hasan al-bashri

Sejarah historis ajaran tasawuf 
 mengalami perkembangan yang sangat pesat, berawal dari upaya meniru pola kehidupan rosulullah saw. Rosulallah saw lah yang di jadikan suri tauladan bagi para sahabat yang kemudian berkembang menjadi doktrin yang konseptual. Tasawuf pada nabi masih bersifat umum,ajaran nya sudah ada hanya saja tasawuf itu sendiri merupakan istilah yang muncul setelah nabi.kemudian pada masa tabiin seorang ulama’ yaitu hasan al-basri, beliau di anggap tokoh yang paling sentral dalam ajaran kerohanian atau tasawuf.hasan al basri merupakan oaring yang mempraktekan,berbicara dan menguraikan maksud dari ajaran tasawuf yang kemudian menjadi pembuka jalan bagi generasi berikutnya.

1.Riwayat hidup Hasan Al-Bashri Nama lengkapnya Abu Sa’id Al-Hasan bin Yasar, adalah seorang zahid yang sangat masyhur di kalangan tabi’in. Ia juga seorang ulama besar dalam beberapa bidang ilmu, seperti hadits, fiqih, dan tafsir, juga seorang pendidik dan sufi. Ayahnya bernama Yasar Al-Bashri Maula Zaid bin Tsabit Al-Anshari, sedangkan ibunya bernama Khairah Maulat Ummu Salamah. Ia dilahirkan di Madinah pada tahun 21 H. (642 M.) dan wafat pada hari Kamis bulan Rajab tanggal 10 tahun 110 H. (728 H.). Ia dilahirkan dua malam sebelum Khalifah Umar bin Khattab wafat. Ia dikabarkan bertemu dengan 70 orang sahabat yang turut peperangan Badar dan 300 sahabat lainnya. Keluarga Hasan Al-Bashri adalah keluarga yang berilmu dan menaruh perhatian terhadap ilmu, terutama Al-Qur’an dan Hadits. Ibunya sendiri, yang sangat dekat dengan Ummu Salamah, salah seorang istri Rasulullah SAW, tergolong orang berilmu.Ibunya itu adalah seorang penghafal dan periwayat hadits, yang menerima dan meriwayatkan banyak hadits dari Ummu Salamah. Pendidikan

awal Hasan Al-Bashri diperolehnya dari lingkungan keluarganya sendiri, Ibunya adalah gurunya yang pertama. Kehidupan keluarganya di Madinah, yang berlangsung selama kurang lebih 16 tahun sejak kelahiran Hasan Al-Bashri sampai dengan perpindahannya ke Basrah, member warna tersendiri bagi perkembangan pengetahuannya. Ibunya banyak memberikan pengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan Hasan Al-Bashri dan saudaranya. Berkat pendidikan dan pembinaan dari ibunya, maka pada usia 14 tahun Hasan sudah menghafal Al-Qur’an. Sejak usia dini seperti ini ia juga telah banyak mendengar riwayat (hadits) dari ibunya. Pergaulannya dengan para sahabat Nabi SAW membuat cakrawala pengetahuanagamanya, terutama hadits, bertambah luas. Ahmad Isma’il Al-Basit, seorang ulama Yordania, membagi masa kehidupan Hasan atas tiga periode, yaitu :

1. Periode tahun 21-42 H, 2. Periode tahun 43-53 H, 3. Periode tahun 53-110 H.
Periode pertama merupakan periode Hasan di Madinah. Pada masa ini ia banyak menimba ilmu, tidak hanya pada ibunya, melainkan juga dari sebagian sahabat. Pada periode kedua ia mulai melibatkan diri dalam berbagai peperangan dan penaklukan wilayah-wilayah baru. Pada saat yang bersamaaan, ia juga bertemu dengan banyak sahabat Nabi SAW dan menimba ilmu dari mereka. Periode ketiga ia habiskan waktunya di Bashrah untuk menyampaikan dan mengajarkan ilmunya. Dialah (Hasan Al-Bashri) yang mula-mula menyediakan waktunya untuk memperbincangkan ilmu-ilmu kebatinan, kemurnian akhlak, dan usah menyucikan jiwa di Masjid Bashrah. Ajaran-ajarannya tentang kerohanian senantiasa didasarkan pada sunah Nabi. Sahabat Nabi yang masih hidup pada zaman itu pun mengakui kebesarannya. Suatu ketika seorang dating kepada Anas bin Malik-sahabat Nabi yang utama-untuk menanyakan persoalan agama, Anas memerintahkan orang itu agar menghubungi Hasan. Mengenai kelebihan lain dalam diri Hasan, Abu Qatadah pernah berkata, “Bergurulah kepada syekh ini. Saya sudah saksikan sendiri (keistimewaannya). Tidak ada seorang tabi’in pun yang menyerupai sahabat Nabi selainnya.”

Karir pendidikan Hasan Al-Bashri dimulai dari Hijaz. Ia berguru hamper kepada seluruh ulama di sana. Bersama ayahnya, ia kemudian pindah ke Bashrah, tempat yang membuatnya masyhur dengan nama Hasan Al-Bashri. Disamping dikenal sebagai zahid, ia pun dikenal sebagai seorang yang wara’ dan berani dalam memperjuangkan kebenaran. Untuk mengembangkan ilmu yang pertama diterimanya, ia membuka Madrasah Hasan Al-Bashri,yaitu sebuah forum khusus untuk berdiskusi dan bertukar pikiran dengan para murid. Di maadrasah inilah ia mengajarkan berbagai ilmu keislaman. Ia menyampaikan pesan-pesan pendidikannya melalui dua cara. Pertama ia mengajak murid-muridnya untuk menghidupkan kembali kondisi masa salaf, seperti yang terjadi pada masa para sahabat Nabi SAW, terutama pada masa Umar bin Khattab, yang selalu berpegang kepada Kitabullah dan sunah Rasulullah SAW. Kedua, ia menyeru murid-muridnya untuk bersikap zuhud dalam menghadapi kemewahan dunia. Zuhud menurut pengertiannya ialah tidak tamak terhadap kemewahan dunia dan tidak pula lari dari soal dunia, tetapi selalu merasa cukup dengan apa yang ada.

Dr. Abdul Mun’im al-Hifni, seorang ahli tasawuf Cairo, memasukan Hasan al-Basri dalam kelompok sufi besar. Dengan mengutip pendapat Abu Hayyan at-Tauhidi (seorang ahli tasawuf), ia mengatakan bahwa Hasan al-Basri adalah seorang zahid yang warak dan penasihat yang nasihatnya menyejukan hati dan kalimatnya menyentuh akal. Tentang tasawuf, Hasan al-Basri berkata, “Barang siapa yang memakai tasawuf karena tawadlu’ (kepatuhan) kepada Allah akan ditambah Allah cahaya dalam diri dan hatinya, dan barang siapa yang memakai tasawuf karena kesombongan kepada-Nya akan dicampakkan-Nya ke dalam neraka.”

2. Ajaran-ajaran tasawufnya
Kedalaman pengetahuan Hasan Al-Bashri mengenai tasawuf membuatnya cenderung untuk mengartikan beberapa istilah dalam agama islam menurut pendekatan tasawuf. Islam, misalnya, diartikannya sebagai penyerahan hati dan jiwa hanya kepada Allah SWT dan keselamatan seorang muslim dari gangguan muslim lain. Orang beriman, menurutnya, adalah orang yang mengetahui bahwa apa yang dikatakan Allah SWT, itu pulalah yang harus dia katakan. Orang mukmin ialah orang yang paling baik amalannya dan paling takut kepada Allah SWT. Para sufi, menurut pengertiannya, ialah orang yang hatinya selalu bertakwa kepada Allah SWT dan memiliki cirri-ciri antara lain sebagai berikut: berbicara benar, menepati janji, mengadakan silaturahmi, menyayangi yang lemah, tidak memuji diri, dan mengerjakan yang baik-baik. Faqih, menurutnya, ialah orangyang zahid terhadap dunia dan senang terhadap akhirat, melihat dan memahami agamanya, senantiasa beribadah kepada Tuhannya, bersikap warak, menjaga kehormatan kaum muslimin dan harta mereka, dan menjadi penasihat dan pembimbing bagi masyarakatnya. Sebagaimana sufi lainnya, Hasan Al-Bashri sangat takut terhadap siksaan Allah SWT. Abdul Mun’im Al-Hifni menggambarkan bahwa Hasan Al-Bashri tampak seperti orang yang selalu ketakutan. Ia selalu merasa takut karena membayangkan bahwa neraka itu seakan-akan diciptakan oleh Allah SWT semata-mata untuk dirinya.

Nasihatnya yang terkenal diucapkannya ketika beliau (Hasan Al-Bashri) diundang oleh penguasa Iraq, Ibnu Hubairoh, yang diangkat oleh Yazid bin Abdul Malik. Ibnu Hubairoh adalah seorang yang jujur dan sholeh, namun hatinya selalu gundah menghadapi perintah-perintah Yazid yang bertentangan dengan nuraninya. Ia berkata, “Allah telah memberi kekuasan kepada Yazid atas hambanya dan mewajibkan kita untuk mentaatinya. Ia sekarang menugaskan saya untuk memerintah Iraq dan Parsi, namun kadang-kadang perintahnya bertentangan dengan kebenaran. Ya, Abu Sa’id apa pendapatmu? Nasihatilah aku …” Berkata Hasan Al-Bashri, “Wahai Ibnu Hubairoh, takutlah kepada Allah ketika engkau mentaati Yazid dan jangan takut kepada Yazid¬ketika engkau mentaati Allah. Ketahuilah, Allah membelamu dari Yazid, dan Yazid tidak mampu membelamu dari siksa Allah. Wahai Ibnu Hubairoh, jika engkau mentaati Allah, Allah akan memelihara¬mu dari siksaan Yazid didunia, akan tetapi jika engkau mentaati Yazid, ia tidak akan memeliharamu dari siksa Allah di dunia dan akhirat. Ketahuilah, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam ma’siat kepada Allah, siapapun orangnya.” Berderai air mata Ibnu Hubairoh mendengar nasihat Hasan Al-Bashri yang sangat dalam itu.

Hasan Al-Bashri masyhur dengan kezuhudannya yang berlandaskan khauf (takut kepada kemurkaan Allah SWT dan raja’ (mengharapkan rahmat Allah SWT). Yang dimaksud dengan khauf ialah takut terjerumus pada kemaksiatan yang akan mendapat kemurkaan dari Allah SWT. Khauf harus diiringi dengan raja’, yakni senantiasa mengharap karunia Allah SWT. Oleh sebab itu, Hasan Al-Bashri mengatakan: “Jauhilah dunia ini, karena ia sebenarnya serupa dengan ular, licin pada perasaan tangan, tetapi racunnya mematikan.” Abu na’im Al-Ashbahani menyimpulkan pandangan tasawuf Hasan Al-Bashri sebagai berikut, “takut (khauf) dan pengharapan (raja’) tidak akan dirundung kemuraman dan keluhan, tidak pernah tidur senang karena selalu mengingat Allah.” Pandangan tasawufnya yang lain adalah anjuran kepada setiap orang untuk senantiasa bersedih hati dan takut kalau tidak mampu melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Sya’rani pernah berkata, “Demikian takutnya, sehingga seakan-akan ia merasa bahwa neraka itu hanya dijadikan untuk ia (Hasan Al-Bashri).” Lebih jauh lagi, Hamka mengemukakan sebagian ajaran tasawuf Hasan Al-Bashri seperti ini:
  1. “Perasaan takut yang menyebabkan hatimu tentram lebih baik daripada rasa tentram yang menimbulkan perasaan takut.”
  2. “Dunia adalah negeri tempat beramal. Barangsiapa bertemu dunia dengan rasa benci dan zuhud, ia akan berbahagia dan memperoleh faedah darinya. Namun, barangsiapa bertemu dunia dengan perasaan rindu dan hatinya tertambal dengan dunia, ia akan sengsara dan akan berhadapan dengan penderitaan yang tidak dapatditanggungnya.”
  3. “Tafakur membawa kita pada kebaikan dan selalu berusaha untuk mengerjakannya. Menyesal atas perbuatan jahat menyebabkan kita bermaksud untuk tidak mengulanginya lagi. Sesuatu yang fana’ betapapun banyaknya tidak akan menyamai sesuatu yang baqa’ betapapun sedikitnya. Waspadalah terhadap negeri yang cepat datang dan pergi serta penuh tipuan.”
  4. “Dunia ini adalah seorang janda tua yang telah bungkuk dan beberapa kali ditinggalkan mati suaminya.”
  5. “Orang yang beriman akan senantiasa berduka-cita pada pagi dan sore hari karena berada di antara dua perasaan takut: takut mengenang dosa yang telah lampau dan takut memikirkan ajal yang masih tinggal serta bahaya yang akan mengancam.”
  6. “Hendaklah setiap orang sadar akan kematian yang senantiasa mengancamnya, dan juga takut akan kiamat yang hendak menagih janjinya.”
  7. “Banyak duka cita di dunia memperteguh semangat amal shaleh.”
Berkaitan dengan ajaran tasawuf Hasan Al-Bashri, Muhammad Mustafa, guru besar Filsafat Islam, menyatakan kemungkinan bahwa tasawuf Hasan Al-Bashri didasari oleh rasa takut siksa Tuhan di dalam neraka. Namun, ada yang meneliti bahwa ternyata bukan perasaan takut terhadap siksaanlah yang mendasari tasawufnya, tetapi kebesaran jiwanya akan kekurangan dan kelalaian dirinyalah yang mendasari tasawufnya itu. Sikapnya itu senada dengan sabda Nabi yang berbunyi, “Orang beriman yang selalu mengingat dosa-dosa yang pernah dilakukannya adalah laksana orang duduk di bawah sebuah gunung besar yang senantiasa merasa takut gunung itu akan menimpa dirinya.”

KESIMPULAN 
Hasan Basri merupakan ulama’ zahid yang masyhur, dasar utama hasan al basri adalah kezuhudan yaitu meninggalkan segala kenikmatan, kemewahan, kesenangan dunia. Hasan basri mengumpamakan dunia sebagai ular halus di luar nya tapi biasa nya beracun. Oleh sebab itu beliau menganjurkan untuk meninggalkan kesenangan dunia karena dunia bisa membuat kita berpaling dari kebenaran dan membuat kita selalu memikirkan nya. Prinsip ajarannya adalah khauf dan raja’ ,yaitu takut dan berharap maksudnya adalah takut dengan siksaan allah swt karena melakukan dosa dan sering meninggalkan perintahnya, takut pada murka Allah dan juga di iringi dengan harapan / selalu berharap agar mendapat ridhlo dari Allah swt. Oleh karena itu prinsip-prinsip ajran ini mengandung kesiapan dalam melakukan introspeksi diri agar selalu memikirkan kehidupan yang hakiki dan abadi.

Khutbah Nabi di Ghadir Qum II

Targhib dan tahdid

Targhib adalah kabar yang menggembirakan (memberikan harapan) sedangkan tahdid adalah kabar yang menyedihkan. Kabar yang menggembirakan ditujukan kepada mereka yang memegang teguh pesan terakhir Nabi Saw yang berasal dari Allah SWT mengenai kepemimpinan sesudah beliau yang diberikan kepada Ali bin Abi Thalib atas kehendak Allah SWT. Sedangkan kabar yang menyedihkan ditujukan kepada mereka yang mengingkari dan menolak pesan terakhir Nabi Saw ini.

I. Targhib Targhib adalah berita yang menggembirakan yang terkandung di dalam khutbah Nabi Saw ini yang di alamatkan kepada mereka yang mau mengikuti jalan (sunnah) yang di amalkan oleh Imam Ali as. Dalam khutbah ini, Imam Ali tidak mungkin kita pahami sebatas keadaan beliau sebagai pribadi tak ubahnya pribadi-pribadi lain, sebab dengan demikian maka akan tidak menjadi bermakna sama sekali pemberian status dan peran Nabi Saw atas Ali sebagai Imam, sebagai wali sebagai maula sebagai khalifahnya dan sebagai Amirul-mukminin. Pesan Nabi Saw agar kita mengikutinya adalah mengikuti sunnah yang ditetapkan olehnya. Inilah hakekat yang dapat kita tangkap dari pesan Ghadir Khum jika kita berkehendak menempatkan khutbah ini memiliki makna yang relevan dengan keseluruhan teks khutbah. Sebagaimana kita lihat, isi khutbah Rasulullah tidak mengkaitkan status dan peran Imam Ali as dengan kehidupan bernegara atau berpolitik melainkan lebih menekankan pada jalan spiritual yang haq, bertemu Allah, dan beribadah kepadaNya.

Contoh targhib dalam khutbah Rasulullah, “Ya Allah, berilah kasih sayangmu kepada orang yang mencintai Ali, musuhilah orang yang memusuhi Ali, kutuklah orang yang mengingkari Ali, dan murkailah orang yang menghujat haknya”.

“Dengarlah perintahnya (Ali) niscaya kamu selamat, taatilah niscaya kamu mendapat hidayah, hindarilah apa yang dilarangnya niscaya kamu mendapat petunjuk, dan bersikaplah (berjalanlah) ke arah yang ditunjukannya dan janganlah kamu menyimpang dari jalannya”.

“Barangsiapa yang taat kepada Allah, kepada RasulNya dan kepada Ali dan kepada para Imam sesudahnya yang telah kami tuturkan kepada kamu, maka dia akan memperoleh kebahagiaan yang gemilang”.

“Ketahuilah bahwa dasar (pangkal) amar makruf dan nahi munkar adalah kemauan kalian menerima sabdaku sebagai sesuatu yang final, kemudian kamu mau menyampaikannya kepada orang-orang yang tidak hadir (di Ghadir Khum ini) dan kamu memerintahnya untuk menerima pesan ini dan melarang mereka menentangnya (mengingkarinya) karena sesungguhnya pesan ini dari Allah dan dari aku; sesungguhnya tidak ada amar makruf dan nahi munkar kecuali dengan bersamaan dengan (adanya) Imam yang maksum”.

II. Tahdid adalah berita yang menyedihkan atau khabar ancaman. Dalam khutbah di Ghadir Khum ini Rasulullah mengalamatkan tahdid (ancaman) kepada mereka yang menolak, mengingkari, bersikap takabur tidak mau menerima pesan Rasulullah di Ghadir tentang keimamahan Ali as dan yang kemudian dilanjutkan oleh para Imam yang datang sesudahnya. Teks yang bermuatan tahdid antara lain;

“Ketahuilah bahwa malaikat Jibril memberitakan kepadaku dari Allah Swt mengenai kepemimpinan, “Siapa yang memusuhi Ali dan tidak mau menerima kepemimpinannya niscaya dia akan menerima laknatKu dan kemurkaanKu”.

“Sesungguhnya orang yang membenci Ali adalah orang yang celaka, dan yang mengakui kepemimpinan Ali adalah orang-orang yang takwa, dan yang mempercayai Ali adalah orang mukmin yang mukhlis”. "Ketahuilah bahwa musuh-musuh Ali adalah orang-orang yang celaka, munafiq, pelanggar batas, mereka adalah orang-orang yang melampaui batas dan menjadi teman syaitan yang saling mebisik-bisikkan kata-kata yang indah untuk menipu manusia”.

“Sesungguhnya dia (Ali) adalah Imam dari Allah (berasal dari perintah Allah); Allah tidak akan mengampuni orang-orang yang mengingkari kepemimpinannya dan Dia tidak akan mengampuninya sama sekali; inilah kepastian perbuatan Allah terhadap orang yang menentang perintahNya dalam masalah ini dan Dia akan mengazabnya dengan azab yang sangat berat, dahsyat dan selama-lamanya. Awas! janganlah kamu mengingkarinya karena perbuatan ini akan mengantarkanmu masuk neraka yang bara apinya dari manusia dan bebatuan yang disiapkan bagi orang-orang kafir”.

III. Tentang bai’at "Perhatikanlah pada penutup khutbahku ini aku menyeru kamu mengulurkan tangan kepadaku sebagai tanda bai’at padanya (Ali) dan pengakuan setia padanya dan sesudah aku nanti, kamu harus mengulurkan tangan kepadanya (sebagai tanda bait dan kesetiaan padanya).

“Maka aku diperintah mengambil bai’at dari kamu dan kesetiaanmu agar menerima apa-apa yang kubawa dari Allah Azza wa jalla berkenaan dengan masalah Ali selaku Amirul-mukminin dan demikian juga terhadap para Imam sesudahnya dari para keturunanku dan keturunannya dan salah satu di antara para Imam itu adalah al Mahdi sampai nanti Hari Kiamat yang memgemban (menunaikan) kepemimpinannya dengan benar”.

“Apa yang kalian katakan maka sesungguhnya Allah mengetahui setiap suara dan apa yang dirahasiakan (tidak diucapkan) oleh setiap diri; maka barangsiapa memperoleh hidayah, keberuntunganlah baginya, dan barangsiapa yang sesat maka kesesatannya itu akan menimpanya pula, dan barangsiapa yang mau berbai’at sesungguhnya ia berbai’at kepada Allah, kekuasaan Allah berada di atas kekuasaan mereka. Bertakwalah kepada Allah dan bai’atlah kepada Ali, Amirul-mukminin dan kepada Hasan dan Husein dan kemudian berbai’at kepada para Imam simbol kalimatan thayyibatan baqiyatan di mana Allah akan menghancurkan siapa saja yang lari (dari bai’at) dan memberi rahmat kepada siapa yang memenuhinya”

“Mereka yang bersegera memenuhi bai’at kepadanya dan menjadikannya pembimbingnya dan menerimanya sebagai Amirul mukminin adalah orang-orang yang berbahagia dan akan berada di dalam surga yang penuh rasa kenikmatan”.

Teks khutbah tentang perintah bai’at kepada Ali dan para Imam sesudahnya ini, sudah tentu, berkait dengan status Ali dan para Imam sesudahnya serta peran mereka dalam membimbing umat dalam menempuh jalan yang haq dari Allah dan mengamalkannya serta dalam merealisasikan taqwa. Ide bai’at kepada Ali dan para Imam sesudahnya sebagaimana dalam isi khutbah Nabi Muhammad Saw tidak berkonotasi politis. Karena itu seandainya pun Ali dan para Imam sesudahnya tidak memegang kekuasaan politik setelah wafat Nabi Saw, keharusan memenuhi bai’at pada Ali dan para Imam sesudahnya tetap berlaku. Sebab, membai’at Ali dan para Imam sesudahnya tidak berarti membai’at mereka sebagai pemimpin negara dan pemegang kekuasaan politik, akan tetapi sebagai Wali, Maula, Khalifah, Amirul-mukminin, Imam yang membawa umatnya berjalan di atas jalan yang haq menuju Allah Swt, dalam meneguk air ma’rifat dan dalam menyelam ke dalam kedalaman samudera hakikat. Dalam konotasi makna inilah maka mereka yang memberikan bai’at kepada Ali dan para Imam sesudahnya tidak melakukan usaha memberontak kepada penguasa politik yang berlaku secara de facto dan de jure.

Allah Swt sendiri memilih dan mengangkat Muhammad Saw sebagai Nabi dan Rasul daripada sebagai Kepala Negara atau Kepala Pemerintahan seperti banyak ditunjukkan dalam banyak ayat di dalam al-Quran. Memang tidak bisa dipungkiri bahwaa dalam kenyataan sejarah, Nabi Muhammad Saw juga sebagai pemimpin sebuah masyarakat Muslim yang berada dalam satu wilayah tertentu dan memiliki kedaulatan dan hak menentukan nasibnya. Nabi juga memimpin mereka bertahan menghadapi perlawanan musuh yang mengancam dan hendak menghancurkan mereka. Akan tetapi bukan fakta politik ini yang lebih ditekankan oleh al-Quran terhadap status Nabi Muhammad Saw melainkan pada ide pembawa risalah yang mengajak umat manusia mengikuti ketentuan-ketentuan Allah dalam melakukan hubungan kepada Allah maupun kepada sesama manusia dalam berbagai aspek; berekonomi, bernegara, berpemerintahan, bermasyarakat, menjalin kerja sama. Dalam dua demensi hubungan itu -vertikal dan horizontal - Nabi Muhammad Saw menekankan pada al-akhlak al-karimah sebagai sarana mengadakan hubungan.

Ketika dalam kenyataan sejarah Ali tidak memegang kekuasaan politik sepeninggal Rasulullah Muhammad Saw yang disebabkan oleh perpecahan dan pertentanagan sesuatu yang berbeda dengan masyarakat muslim yang masih utuh di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad Saw - ide yang menekankan keimamahan Ali tetap berlaku. Ide keimamahan ini tidak diberlakukan untuk pemberontakan politik atau usaha-usaha sejenisnya terhadap pemerintahan yang dipegang oleh penguasa selain Ali dan anak keturunannya karena memang tekanan makna dari ide itu tidak diperuntukkan bagi kehidupan berpolitik melainkan dalam merealisasikan kualitas hubungan vertikal (ibadah kepada Allah) dan kualitas hubungan horisontal, sesama manusia. Nilai hubungan vertikal yang bisa mencapai kualitas ma’rifat billah dan hubungan horisontal sebagai buah dan implikasi dari hubungan vertikal tersebut diperlihatkan dalam wujud “al-akhlaq al-karimah al-mahmudah”, perilaku moral yang terpuji dan mulia, dan ini merupakan fondasi kepribadian diri.

Khutbah Nabi di Ghadir Qum I

1.Sumber Data Khutbah Nabi di Ghadir Khum
Data khutbah Nabi ini diambil dari karya DR. Ali Akbar Shadeqi yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Husein Shahab dan diterbitkan oleh Pustaka Pelita, Bandung, cetakan pertama pada April 1998. Ali Akbar Sadeqi juga menjelaskan data khutbah Ghadir khum ini terdapat dalam 18 belas kitab yang ditulis baik oleh ulama kalangan Sunni dan Syi’ah (lihat Ali Akbar Shadeqi; hlm. 19-21).

2. Pentingnya Studi Sejarah
Sejarah, kata Thomas S. Kuhn, penulis karya terkenal “The Structure of Scientific Revolution”, jika lebih dipandang sebagai khazanah daripada sekedar anekdot dan kronologi, dapat menghasilkan perubahan yang menentukan dalam citra pengetahuan.

Perubahan-perubahan interpretasi (penjelasan) di dalam sejarah, Kata Louis Gottschalk, sering disebabkan karena ditemukannya data dari sumbernya yang selama ini hilang atau tersembunyi. Dua teori di atas mengarah kepada makna yang sama, bahwa peluang terjadinya perubahan orientasi (wawasan) amat terbuka dalam memahami sejarah menyusul ditemukannya data sejarah dari sumbernya yang selama ini hilang atau tersembunyi.

Data sejarah umat Islam yang menggambarkan peristiwa penting di masa awal adalah khutbah Nabi Saw di Ghadir Khum ini. Pada dasa warsa tahun 1990 an, diskusi di sekitar masalah Ghadir Khum ini menampakkan kecenderungan yang meningkat meskipun belum naik ke atas permukaan sejarah dan menjadi arus yang dominan dalam perjalanan sejarah umat Islam. Situasi semacam ini merupakan karunia sejarah bagi kita warga Jama’ah Lil-Muqorrobien untuk ikut mengambil peran dalam usaha menjadikan data Ghadir Khum ini menjadi tema utama dalam wacana peradaban menuju terjadinya tranformasi orientasi (perubahan wawasan). Transformasi macam ini berada pada dataran teoritik dan intelektual, yang pada gilirannya, diharapkan bisa melahirkan perubahan sikap pada dataran praktis dan moral (tingkah laku).

Meminjam model hermeneutika-filsafat Martin Heidegger, bahwa tujuan dari pemahaman terhadap teks (termasuk data sejarah) tidak lagi untuk memperoleh pengetahuan yang obyektif sebagaimana anjuran dari hermeneutik teori model Emilio Bettti, melainkan bertujuan praktis, yakni lahirnya pengetahuan yang relevan yang dapat membuat perubahan bagi seseorang karena menyadari diperolehnya peluang-peluang baru guna membentuk esksistensi diri dan tanggung jawabnya bagi masa depan. Khutbah Ghadir Khum, jelas, memiliki peluang melahirkan orientasi baru dan dengan demikian juga punya peluang melahirkan eksistensi manusia baru. Khutbah Ghadir Khum ini berpeluang menggugah kesadaran batin seseorang setelah akal sehatnya yang bening dan tanpa prasangka nafsu mengakui keabsahan data ini secara obyektif.

3. Isi Pokok dan Garis besar Khutbah Ghadir Khum
Isi pokok khutbah Ghadir Khum adalah kepemimpinan umat sesudah Nabi Muhammad Saw ada pada Ali kemudian dilanjutkan oleh para imam sesudah Ali dari keturunan Nabi Saw melalui jalur Ali serta ketentuan baiat kepada Ali dan para imam sesudahnya.

Secara garis besar, Khutbah Ghadir Khum ini dapat dipilah menjadi dua bagian;

a. Bagian pendahuluan memuat puji-pujian dan keagungan Allah dan diakhiri dengan pernyataan terbuka bahwa Nabi diperintahkan untuk menyam-paikan satu ayat firman Allah yang berkait dengan pesan risalah mengenai kepemimpinan umat setelah beliau.

b. Bagian kedua berisi materi khutbah. Bagian ini dapat dijabarkan dalam beberapa poin; yakni teknis dan sasaran seruan, ide yang terkandung dalam materi khutbah, targhib dan tahdid (harapan dan ancaman), serta kepemim-pinan para imam dari keturunan Nabi Saw yang lahir dari darah Ali.

A. Teknis dan sasaran (mukhatab) seruan. Khutbah di Ghadir ini disampaikan kepada lebih dari seratus ribu umatnya yang hadir dalam peristiwa ini.. Nabi Saw tidak menyeru mereka dengan ungkapan “wahai orang-orang mukmin” (ma’asyiral-mukminin) melainkan dengan “wahai manusia” (ma’asyiran-nas;), dan seruan dengan ungkapan ini diulang sebanyak 53 kali. 
Dua kali seruan lainnya menggunakan ungkapan “ayyuhan-nas”. Persoalan mengenai mengapa Nabi Saw tidak menggunakan ungkapan "wahai orang-orang mukmin” melainkan dengan “wahai manusia” terhadap mereka yang hadir dalam khutbah ini terjawab dari isi (materi atau isi yang terkandung) di dalam khutbah beliau yang mengklasifikasikan mereka yang hadir di hadapan beliau menjadi dua kelompok; - orang-orang yang muttaqin, - orang-orang munafiqin yang jumlahnya jauh lebih banyak dari kelompok muttaqin. Secara teknis, kajian analisis ini akan memberi nomer untuk setiap seruan “ma’asyiran-nas” dan “ayyuhan-nas” mulai dari nomer 1 sampai nomer terakhir. Setelah itu disertakan terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia, kemudian diberikan pokok-pokok isi khutbah. 

B. Ide yang terkandung dalam materi Khutbah Ide sentral dan pokok khutbah Nabi Saw menggambarkan dua hal; yaitu tentang status Ali bin Abi Thalib serta para Imam sesudahnya dan tentang peran yang diemban oleh mereka. Sebelumnya akan dikemukakan penjelasan teoritik mengenai status dan peran. Teori Mettu Zachariah memberikan penjelasan tentang perbedaan “status” dan “peran”. Menurutnya, status menggambarkan kedudukan dan posisi seseorang dalam suatu struktur masyarakat; sedangkan peran menggambarkan rincian-rincian tugas, penjelasan-penjelasan yang berkait dengan terpenuhinya perbuatan yang seharusnya dilaksanakan oleh seseorang yang menempati posisi tertentu. Kepala Desa, misalnya, adalah status atau jabatan di dalam suatu struktur masyarakat yang padanya ada peran yang harus dipenuhi. Seseorang yang menduduki jabatan sebagai Kepala Desa dituntut memenuhi perannya yang harus dilaksanakan sebagai Kepala Desa. Suami atau Bapak adalah kepala keluarga; dan sebagai kepala keluarga dia harus memainkan peran yang seharusnya dipenuhi oleh kepala keluarga. Pada hemat kami, status berkait dengan potensi atau fakta kualitas seseorang, misalnya, dia diangkat menjadi Kepala Desa atau Kepala Sekolah atau sebagai Pemimpin masyarakat karena dia memang punya potensi dan kualitas untuk menduduki jabatan tersebut. Sementara itu, peran berkait dengan kewajiban-kewajiban, tugas-tugas, harapan-harapan yang harus dipenuhi menyusul kedudukan dan jabatan yang diperoleh seseorang. 

C. Status sayyidina Ali as (‘alaihis-salam), dalam khutbah Ghadir Khum ini, Nabi Saw menjelaskan kepada umatnya yang hadir dalam khutbah itu mengenai berbagai status Ali. Secara eksplisit status Ali dinyatakan oleh Nabi Saw.

D Potensi dan Kualitas sayyidina Ali as (‘alaihis-salam) Status Ali tersebut berkait dengan potensi dan kualitas-kualitas yang ada pada dirinya sebagaimana diungkapkan sendiri oleh Rasulullah Saw. Potensi-potensi dan kualitas-kualitas itu antara lain: “Dia (Ali) adalah orang yang paling utama sesudahku di antara laki-laki dan wanita di mana Allah memuliakannya, Dia orang yang menyertai Rasulullah dalam menyembah Allah manakala tak ada seorang pun menyertai Rasulullah selain dia (dalam menyembah Allah), Dia adalah penolong agama Allah dan pembela Rasulullah, dia seorang yang taqwa dan suci yang memberi petunjuk, ingatlah, sesungguhnya Ali adalah orang yang berwatak sabar, dan mau bersyukur dan setelah dia adalah keturunanku yang terlahir dari dirinya (dari sulbinya), dia adalah jalan lurus (sirathal-mustaqim) sesudahku kemudian dilanjutkan keturunanku dari dirinya, yakni para imam yang memberi bimbingan ke jalan yang haq dan dengan jalan yang haq itulah mereka berlaku adil, aku (Nabi Saw) telah memberikan semua ilmu yang aku miliki kepada Ali”. 

E. Para Imam sesudah Imam Ali, dan Imam yang Terakhir. Di dalam khutbah di Ghadir Khum ini Nabi Muhammad Saw menggambarkan para Imam sesudah sayyidina Ali as dan Imam yang terakhir antara lain; "Al-Quran memberitahu kepadamu bahwa para Imam sesudah Ali adalah putera-puteranya. Aku (Nabi Saw) juga memberitahu kepadamu bahwa sesungguhnya dia (Ali) adalah aku dan aku adalah dia sebagaimana difirmankah oleh Allah: “Dia menjadikan kalimat tauhid sebagai kalimat yang kekal pada keturunannya”. (S. 433: 28). “Kemudian setelah aku (Rasulullah Muhammad Saw) adalah Ali yang menjadi walimu (pemimpin, pembimbing, pelindungmu) dan imam kamu atas dasar perintah Tuhanmu kemudian imamah (kepemimpinan) itu ada dalam keturunanku dari jalur Ali sampai nanti hari kamu sekalian bertemu Allah dan RasulNya (hari kebangkitan). "Sesungguhnya Allah menyempurnakan agama kamu dengan keimamahan Ali; barangsiapa yang tidak mengikutinya (Ali) dan tidak mengikuti para penggantinya dari keturunannku dari jalur Ali sampai hari kiamat dan hari perjumpaan dengan Allah mereka adalah orang-orang yang amal perbuatannya gugur (terhapus) dan mereka akan kekal di dalam neraka dan tidak ada keringganan azab dan mereka akan terabaikan”. 

“Nur cahaya dari Allah telah mengalir ke dalam diriku kemudian mengalir ke dalam diri Ali kemudian kepada anak keturunan darinya sampai kepada al-Qaim al-Mahdi yang mengembalikan haq Allah dan haq kami kepada tempatnya”. “Sesungguhnya aku telah serahkan masalah imamah umat dan mewariskannya kepada imam-imam sesudahku sampai hari kiamat; sungguh aku telah menyampaikan apa yang diperintahkan untuk disampaikan kepada semua yang hadir di sini dan yang tidak hadir”. “Aku (Nabi Muhammad Saw) adalah jalan Allah yang lurus yang kamu sekalian diperintahka untuk mengikutinya, kemudian dilanjutkan oleh Ali dan kemudian dilanjutkan oleh anak keturunanku dari jalur Ali; yakni para imam yang membimbing kepada yang haq (benar) dan dengan yang haq itu mereka berlaku adil”. “Ketahuilah bahwa penutup para imam adalah al-Qaim al-Mahdi (penegak yang haq dan orang yang memperoleh hidayah), ketahuilah bahwa dia adalah penegak agama, dia adalah pembela aggama Allah, dia adalah orang yang tenggelam dalam samudera (makrifat dan hakikat) yang amat dalam, dia adalah pewaris segala ilmu (utamanya ilmu hakikat) dan menguasainya, dia adalah pembawa berita dari Allah dan pemberi peringatan mengenai masalah iman, dia adalah imam terakhir pembawa hujjah dan selain dia tidak ada hujjah, dan tidak adalah kebenaran kecuali selalu bersamanya (dia adalah lambang kebenaran, atau dia adalah kebenaran itu sendiri), tidak ada nur cahaya kecuali hanya ada padanya, tidak ada kekuatan yang mengalahkannya dan tidak akan ada yang menang atasnya” 

F. Peran Imam Ali dan para Imam sesudahnya, “Dialah (Ali) orang yang memberi bimbingan ke jalan yang haq dan dia sekaligus mengaktualisasikannya dan dia menghancurkan apa yang batil dan mencegahnya tanpa peduli terhadap cercaan orang yang mencercanya”. “Dia (Ali) adalah pembela agama Allah dan pelindung Rasulullah”. “Nur cahaya Allah mengalir ke dalam diriku kemudian ke dalam diri Ali kemudian ke dalam keturunannya sampai kepada Imam al-Qaim al-Mahdi yang (berperan) mengembalikan haq Allah dan haq kami ke tempat yang semestinya. 

Allah menjadikan kami hujjah dan bukti kebenaranNya atas orang-orang yang membangkang, penentang, pengingkar, pengkhianat, pelaku dosa dan para orang-orang dhalim dari seluruh manusia”. “Ketahuilah bahwa penutup para imam adalah al-Qaim al-Mahdi (penegak yang haq dan orang yang memperoleh hidayah), ketahuilah bahwa dia adalah penegak agama, dia adalah pembela aggama Allah, dia adalah orang yang tenggelam dalam samudera (makrifat dan hakikat) yang amat dalam, dia adalah pewaris segala ilmu (utamanya ilmu hakikat) dan menguasainya, dia adalah pembawa berita dari Allah dan pemberi peringatan mengenai masalah iman, dia adalah imam terakhir pembawa hujjah dan selain dia tidak ada hujjah, dan tidak adalah kebenaran kecuali selalu bersamanya (dia adalah lambang kebenaran, atau dia adalah kebenaran itu sendiri), tidak ada nur cahaya kecuali hanya ada padanya, tidak ada kekuatan yang mengalahkannya dan tidak akan ada yang menang atasnya”

Imam Ali Ahlud dzikr

Dalam khazanah Islam, kata Imam digunakan untuk mensifati seorang yang ahli ilmu agama seperti Imam al-Asy’ari, Imam al-Maturidi, Imam al-Ghazali, Imam al haramain, Imam as-Syafi’i, dan –lain-lain. Imam dalampengertian inilah yang kita pakai untuk memahami Imam Ali karena beliau disepakati bersama oleh kalangan Sunni maupun Syi’i sebagai acuan utama dalam tasawuf. Ketika turun ayat tentang ahlu adz-dhikr, yakni “fas aluu ahlad-dhikri in kuntum laa ta’lamuun” Imam ‘Ali bin Abi Thalib berkata : “Kami adalah ahlud-dhikri. Penafsiran Imam Ali tentang ahlud-dhikrr ini terdapat dalam kitab tafsir at-Thabari.

Dalam Q.S Al-Anbiya : 8, At-Thabari (Ibn Jarir at-Thabari, wafat 310 H) menyusun tafsir dengan judul “Jami al-Bayan fi Ta’wil al-Quraan”. Pada mujallid. 9, juzz 17, hal 6 menurunkan satu riwayat yang isinya bahwa Ali bin Abi Thalib berkata, ‘kami adalah ahlud-dhikr”. Teks asli dalam tafsir at-Thabari sbb. “Dari Ahmad bin Muhammad at-Thusi, dari Abdurrahman bin Shalih dari Musa bin Usman dari Jabir al-Ju’fi, berkata : ketika turun ayat fas aluu ahlad-dhikri in kuntum la ta’lamuun”, berkata Ali bin Abi Thalib, “kami adalah ahlud-dhikr”. Dalam tata bahasa Arab, kata-kata “kami” (terjemahan dari kata “nahnu”) adalah mutakallimin ma’al ghair). Artinya kata ganti nama “kami” memuat makna lebih dari satu orang (satu subyek). Misal, A adalah Haitsam, seorang guru berkata: ”Kami setiap hari memenuhi kewajiban kami mendidik siswa demi masa depan mereka sebagai generasi bangsa”. Kata kami tersebut tidak hanya untuk diri guru A saja, melainkan sekaligus mewakili teman-teman seprofesi. Demikianlah kata ”kami” yang digunakan oleh Imam Ali, tidak sebatas untuk menunjuk dirinya sendiri melainkan mewakili untuk orang lain yang juga ”ahlud-dhikr”, yakni Imam Hasan, Imam Husain, Imam Ali Zainul Abidin, Imam Muhammad al-Baqir.

Dalam sejarah tasawuf diriwayatkan bahwa Hasan al-Basri, (lahir 21 H, wafat 110 H) mula-mula menjadi murid Imam Ali ”ahlud dhikr”, setelah wafat Imam Ali (41 H), menjadi murid Imam Hasan (Wafat 50H), kemudian kepada Imam Husain (Wafat 61 H), kemudian menjadi murid Imam Ali Zainul Abidin. Hasan Basri adalah Sufi dari priode awal tabi’ien. Dia memimpin sebuah halaqah (ribat) yang didalamnya teman-teman seangkatan dan juga orang-orang yang menimba ketasawufan. Data sejarah menyebutkan, Hasan al-Bashri dan kawan-kawannya serta para murid (murid dalam arti ”orang yang punya kehendak menempuh jalan hidup para sufi”).

Imam Muhammad Al-Baqir juga berkata seperti apa yang telah dikatakan Imam Ali,”Kami adalah ahlud-dhikr”. Kata-kata beliau ini sebagai jawaban terhadap pertanyaan beberapa muridnya tentang ayat fas aluu ahlad-dhikri in kuntum la ta’lamuun, Imam Muhammad al-Baqir menjawab, ”kami adalah ahlud-dhikr”, demikian ditulis oleh Muhammad Jamaluddin Abdul Wahid al-Hanafi dalam tulisan singkatnya berjudul ”al Imam sayyid Muhammad Al Baqir. Putera beliau yakni Imam Ja’far as Shodiq, menurut data sejarah, dinyatakan sebagai Imam Tasawuf dan Imam kaum sufi dengan tidak membedakan apakah kaum sufi ini dari golongan sunni atau dari syi’i. Data sejarah ini dicatat oleh Abdul Qodir Mahmud dalam kitabnya, al falsafah as sufi’ah fil Islam pada hal. 157. Asal makna syi’ah adalah mengikuti jalan beragama.

”tasyayyu ’(menggabung, mengikut) dalam makna asal bahasa adalah mengikuti jalan beragama.

Setelah Rasulullah wafat, tercatat beberapa sahabat yang tetap setia bergabung, mengikuti dan menolong Imam Ali. Diantara mereka adalah Abu Darda, Abu Dhar al-Ghifari, Salman Al Farisi, Ammar bin Yasr, Miqda bin Aswad, Hudhaifah al-Yaman, Sahl bin Hanif, Abu Haitsam, Malin bin Syihab, Khalid bin Said, Ubadah bin Shamit, Abu Ayyub al-Anshari dan lain-lain, sebagian besar dari ahlus-suffah. Mereka adalah para fuqara’ yang tidak masuk dalam kekuasaan pemerintahan. Mereka memilih di bawah bimbingan Ali dalam menempuh jalan beragama karena mentaati washiyat Rasulullah dalam Ghadir Khum tentang Ali (man quntu maulahu, fahadha ’Ali maulahu: Allahuma waali man waalahu wa ’aadi man ’aadahu). Mustafa Kamil as Syaibi dalam kitabnya “as-Sillah baina at-tasawwuf wat tasyayyu” menyebut mereka adalah para syi’ah al awwalun; Abdul Qadir Mahmud dalam kitab al falsafah at tasawwuf fil Islam menyebutnya dengan ”syi’ah al mu’tadilun” (syi’ah jalantengah, syiah moderat. Istilah ini dilawankan dengan syi’ah ghullah, yakni syi’ah ekstrim). Syah Waliyullah ad Dihlawi dalam ”Mukhtashar itsna asyariah menyebutnya dengan syi’ah al mukhlisun”, Syiah yang murni, maksudnya, murni dalam menempuh jalan beragama. Dalam tulisan Kamil Mustafa, as-Syaibi kita baca teks sebagai berikut : ”mereka menjadikan Ali sebagai maula bukan karena tamak ingin memperoleh materi atau pangkat jabatan, tetapi sunguh-sungguh karena memenuhi wasiat Nabi saw .... ** Dikutip dari Khazanah Tasawuf karangan Dr. A. Chozin Affandi.

FENOMENA PERAHU NABI NUH DAN CARA MENAIKINYA


Menaiki perahu Nabi Nuh ..? Ah, mustahil terjadi. Nabi Nuh kan hidupnya sudah ratusan tahun yang lalu, mana mungkin kita bisa menaiki perahunya!! Apalagi wujud perahunya sekarang tidak ada (belum ditemukan). Terus perahunya kayak apa, dimana letaknya, bagaimana bisa menaikinya, bukankah pula seharusnya sudah hancur ditelan jaman? Dan seterusnya-dan seterusnya. Begitulah kiranya ketika secara sekilas membaca judul di atas. Dan, secara spontan pula akan berkesimpulan bahwa hal tersebut “mustahil” terjadi. Apalagi pandangan logika juga sangat tidak mendukung. Bahkan dapat dikatakan suatu hal yang sangat imposible.

Tetapi, ketika membaca sabda Nabi SAW, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, al-Hakim dan Adz Dzahabi, segala ketidakmungkinan di atas akan terjawab dengan sendirinya. Hadits tersebut adalah : “Aku adalah kotanya ilmu dan kamu Ya Ali adalah pintunya. Dan janganlah masuk kota kecuali dengan lewat pintunya. Berdustalah orang yang mengatakan cinta kepadaku tetapi membenci kamu karena kamu adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian darimu. Dagingmu adalah dagingku, darahmu adalah darahku, rohmu adalah rohku, rahasiamu adalah rahasiaku, penjelasanmu adalah penjelasanku. Berbahagialah orang yang patuh kepadamu dan celakalah orang yang menolakmu. Beruntunglah orang yang mencintaimu dan merugilah orang yang memusuhimu.Sejahteralah orang yang mengikutimu dan binasalah orang yang berpaling darimu. Kamu dan para imam dari keturunanmu sesudahku ibarat perahu nabi Nuh; siapa yang naik di atasnya selamat, dan siapa yang menolak (tidak mau mengiktu seruannya) akan tenggelam. Kamu semua seperti bintang ; setiap kali bintang itu tenggelam, terbit lagi bintang sampai hari kiyamat”

Hadits di atas dengan jelas dapat disimak bahwa Nabi SAW telah memproklamasikan diri “Aku adalah kotanya ilmu dan kamu Ya Ali adalah pintunya”. Hal ini kalau dicermati akan didapat dua permasalahan. Yaitu pernyataan diri Nabi SAW sebagai kota Ilmu dan penegasan pengangkatan Ali bin Abu Thalib sebagai pintu memasuki kotanya. Pendeklarasian sebagai kota ilmu sekaligus penunjukkan pintu memasukinya, secara logika tentu akan mengundang berbagai pertanyaan. Misalnya sebagai kotanya ilmu, ilmu apakah atau ilmu yang manakah gerangan? Apakah ilmu fisika, astronomi, aljabar, kedokteran atau ilmu-ilmu yang lain?. Demikian pula tentang pengangkatan Ali sebagai pintunya. Siapakah beliau sebenarnya, dari kalangan bangsa manakah, factor pakah yang melatarbelakangi hingga beliau begitu sangat istimewa di hadapan Nabi SAW?

Sementara itu bila dilihat dari latar belakang pendidikan, serta kehidupan beliau (Nabi SAW) sejak kecil yang selalu dalam keadaan lara-tapa (sengsara)—hingga saking susahnya tidak pernah memikirkan bangku sekolah—kiranya sangat mustahil beliau menguasai ilmu-ilmu tersebut. Apalagi hingga menamakan diri sebagai kota ilmu. Lantas ilmu yang manakah gerangan? Disinilah yang perlu dikaji, dianalisis, dan ditafakuri secara fundamental. Tidak diragukan lagi bahwa Nabi SAW memproklamasikan diri sebagai kota ilmu setelah Beliau secara resmi telah diangkat sebagai Utusan Tuhan (Rasulullah). Yaitu sebagai Wakil Tuhan dalam rangka membimbing umta manusia memenuhi kehendakNya-berupa segenap peraturan (system keyakinan), petunjuk maupun larangan yang harus dilakukan manusia agar bisa bertemu kembali dengan Diri-Nya-yang kemudian disebut ajaran Islam. Oleh karenanya, ilmunya pun adalah ilmu yang memperkenalkan jati diri hamba dengan keberadaan Jati Diri Dzat Tuhan. Persis sebagaimana ketika telah mengenal dengan yakin Wujud-Nya di alam “arwah”, sehingga waktu itu berani menerima persaksian yang diberikan Tuhan . Kemudian setelah mengenal kembali Jati Diri Tuhanseperti yang disaksikan di alam arwah tersebut, selanjutnya dijadikan “total target” yang hendak dituju dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Sehingga ketika mati yang pasti harus dijumpai, dapat/bisa selamat pulang kembali di sisi Dzat yang Berkuasa, ilaa Rabbiha nadhiroh.

Persaksian yang dimaksud adalah seperti yang difirmankan dalam Q.S. Al-A’raf 172 :”…alastu bi Rabbikum qaalu balaa syahidna..”. Bukankah AKU ini Tuhanmu, begitulah kalimat persaksian yang diberikan Tuhan. Kalimat tersebut menggunakan kata AKU, ini bahwa Dzat Tuhan ngejawantah (menampakkan diri) di depan hamba. Kemudian semua manusia yang waktu itu masih berupa intinya (sirr) menjawab : benar (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. Semua manusia tanpa terkecuali, apakah yang akan dijadikan utusan-Nya, hamba biasa ataupun yang akan menjadi pembangkang terhadap perintah-Nya semua bersaksi. Semuanya mengetahui persis, mengetahui dengan pasti atas keberadaan Dzat Tuhan. Sehingga karena haqqul yakinya melihat/menyaksikan kemudian mau bersaksi, menyatakan kebenaran Wujud Dzat Tuhan. Kembali pada kota ilmu, dengan demikian, yang dimaksud kota ilmu adalah ilmu yang menunjukkan/mengenalkan kembali Jati Diri Dzat Tuhan sebagaimana halnya ketika masih di alam arwah telah seyakinnya mengenal. Logikanya, memang sewajarnya dan seharusnya manusia itu asalnya dari Tuhan, kembali kepada Tuhan. Tuhan dalam arti Dzat bukan nama/sebutan/istilah. Ini yang harus dikenal dengan yakin dan pasti. Tidak bisa hanya melalui metode kira-kira, angan-angan, apalagi hanya menduga-duga dari tempat yang jauh. Tempat mengenalnya adalah hati nurani, roh dan rasa, bukannya otak/akal pikiran. Cara mengenalnya/mengetahuinya adalah dengan “digurukan” kepada ahlinya. Sebagaimana halnya Nabi SAW yang juga berguru kepada utusan-Nya (Jibril). Sangat pas/cocok dengan petunjukknya, bila perkara tidak ditanyakan kepada ahlinya, tunggulah kehancurannya.

Di sisi lain, mengenali dengan yakin Dzat-Nya, merupakan implementasi dari perintah-Nya “sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku, dan dirikan Shalat untuk mengingat Aku” (Q.S Thaha:14). Perintah ini menegaskan bahwa “sebenarnya” yang hak disembah adalah Aku (maka sembahlah Aku). Aku yang mempunyai nama Allah. Aku yang memperkenalkan diri dengan 99 asma lainnya (Asmaul Husna). Dan Aku yang disebut-sebut oleh manusia (hamba-nya) dengan beratus-ratus nama lain (missal : God, Tuhan, Gusti, Yahweh, Pangeran, Sang Hyang Widi Wasya dan lain sebagainya). Aku inilah yang dikenali terlebih dahulu, kemudian disembahnya secara khusyuk dan didzikiri (diingat-ingat) baik ketika berdiri, duduk ataupun berbaring. Selanjutnya mengenai penegasan/pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai pintu memasuki kota ilmu, ini menunjukkan bahwa beliaulah yang “terpilih” dapat membawa umat memasuki kota ilmu-nya Nabi SAW. Karena Nabi SAW secara fisik juga manusia biasa yang pada saatnya pasti meninggalkan dunia (mati), maka beliau ( berdasarkan petunjuk Tuhan tentunya) melakukan “regenerasi” kepemimpinan

Kemudiann yang jadi permasalahan baru, mengapa yang terpilih Ali bin Abi Thalib yang konon hanya hamba biasa, bukan para tokoh pemikir ataupun bangsawan yang waktu itu juga banyak didapat (yang pada akhirnya menimbulkan kecemburuan sesama mereka)?. Permasalahan inilah yang “seharusnya” dimengerti oleh umat manusia, bahwa Tuhan yang kuasa segala-galanya”. Tidak dapat diprediksi sedikitpun apa yang menjadi keputusanNya. Termasuk ketika akan mengangkat Nabi SAW sebagai utusan-Nya, yang menurut ukuran akal jauh sekali kemampuan intelektual maupun ketokohannya dibanding dengan “elit bangsawan” yang ada pada waktu itu. Jadi Nabi SAW menghendai Ali sebagai pintu untuk bisa memasuki ilmu yang dibawanya – yang juga jauh sama sekali dengan prediksi para tokoh waktu itu –sama halnya dengan pengangkatan Nabi SAW sendiri sebagai utusan-Nya. Hal demikian sudah tentu bukan atas dasar inisiatif Nabi SAW sendiri, melainkan, tentu saja atas petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Mengapa harus diperdebatkan (waktu itu dan apalagi sekarang?)

Disamping penegasan sebagai “pintu menuju Tuhan” dilengkapi pula dengan gelar khusu untuk mengokohkan kedudukan Ali, di antaranya “ • Kamu (Ali) adalah bagian dariku (Nabi) dan aku (Nabi) adalah bagian darimu (Ali) • Dagingmu (Ali) adalah dagingku (Nabi) • Darahmu (Ali) adalah darahku (Nabi) • Rohmu (Ali) adalah rohku (Nabi) • Rahasiamu (Ali) adalah rahasiaku (Nabi) • Penjelasanmu (Ali) adalah penjelasanku (Nabi) • Berbahagialah orang yang patuh kepadamu (Ali)dan celakalah orang yang menolakmu • Beruntunglah orang yang mencintaimu (Ali) dan merugilah orang yang memusuhimu • Sejahteralah orang yang mengikutimu (Ali) dan binasalah orang yang berpaling darimu.

Dari ke sembilan gelar khusus yang diberikan kepada Ali bin Abi Thalib tersebut bisa dicermati, betapa istimewanya kedudukan beliau dihadapan/disisi Nabi SAW. Sehingga bisa dikatakan kedudukan beliau bagaikan Harun dengan Musa. Atau bagaikan Ibrahim dengan Ismail. Dalam bahasa filsafatnya “satu di dalam dua, dua di dalam satu”. Satu sama lain sangat menguatkan, saling melengkapi, dan bergandengan sangat erat bagaikan sebuah mata rantai. Berbahagialah orang yang patuh kepadamu (Ali)dan celakalah orang yang menolakmu. Beruntunglah orang yang mencintaimu (Ali) dan merugilah orang yang memusuhimu. Sejahteralah orang yang mengikutimu (Ali) dan binasalah orang yang berpaling darimu. Dari kedua hal di atas, kota ilmu maunpun pintunya, ada sabda Nabi SAW berikutnya juga sangat menentukan. Yaitu “Kamu dan para imam dari anak keturunanmu sesudahku ibarat perahu Nabi Nuh”. Jelasnya antara Ali dan para Imam dari anak keturunan Ali adalah bagaikan perahu Nuh. Perahu yang dapat menyelamatkan umat dari kehancuran, yang memang Tuhan sendiri yang akan menghancurkannya. Impelentasinya, setelah Ali wafat akan dilanjutkan oleh para “imam” dari anak keturunan Ali yang berkedudukan sebagai pintu menuju kota ilmu, yang akan melanjutkan tugas dari Nabi SAW sebagai pintu memasuki ilmu beliau. Sudah tentu penunjukkan Ali kepada keturunannya maupun penunjukkan keturunannya kepada keturunan berikutnya lagi dan seterusnya atas dasar petunjuk dari Tuhan. Sama sekali bukan rekayasa maupun inisiatif sendiri. Bukan pula atas dasar musyawarah maupun pilihan suara. Melainkan murni kehendak Yang Maha Kuasa semata. Seperti halnya ketika nabi akan mengangkat Ali sebagai pintu memasuki ilmunya.

Selanjutnya, ”Siapa yang naik di atasnya akan selamat dan siapa yang menolak (tidak naik) akan tenggelam”. Siapa yang mengiktui semua petunjuk dan tuntunan Ali beserta para Imam sesudahnya akan diselamatkan Tuhan, tetapi siapa yang menolaknya akan ditenggelamkan dalam bencana yang memang sudah disiapkan bagi hamba yang mengingkari ayat-ayatnya. Keberadaan Ali dan para imam dari anak keturunan beliau ini adalah seperti bintang, yang memberi cahaya penerang ketika kegelapan datang. Setiap kali bintang itu tenggelam akan terbit lagi sampai hari kiyamat. Setiap kali para imam itu meninggal dunia akan muncul lagi imam yang lain hingga kiyamat tiba. Kemunculannya sama sekali tidak dapat diprediksi oleh manusia. Sama sekali bukan karenaatas dasar musyawarah ataupun keturunan darah, melainkan memang sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa. Walhasil, menaiki perahu nabi Nuh ataupun memasuki kota ilmu Nabi SAW, satu-satunya jalan adalah menemukan para imam yang telah di-”nash”-kan Nabi SAW, yang dimulai oleh sayyidina Ali, dilanjutkan Imam Hasan dan Imam Husen, kemudian dilanjutkan para Imam sesudahnya. Tidak akan pernah putus keberadaan (keberlanjutan)nya sampai kiamat. Setiap kali tenggelam (mati) pasti akan muncul lagi sampai kiamat. Kemudian dibarengi dengan mengikuti semua petunjuk dan larangannya, karena di”tangan” beliau-beliaulah segala rahasia memasuki kota ilmu itu berada. Yang lebih menentukan lagi bahwa hanya perahu beliau-beliaulah yang dapat/bisa membebaskan umat manusia dari berbagai bencana yang melanda bumi – termasuk bumi Nusantara. Baik bencana yang datangnya dari alam semisal tsunami, gempa, meletusnya gunung api, banjir, kebakaran, tanah longsor, kekeringan, mewabahnya aneka macam penyakit – maupun yang datangnya dari manusianya sendiri, semisal makin maraknya korupsi, mengganasnya kejahatan dan yang mengerikan adalah makin hilangnya rasa kemanusiaan (berbagai bentuk pembunuhan). Sedangkan wujud perahunya, bisa berupa jamaah, organisasi, gerakan, ataupun berbentuk apapun, yang jelas kesemuanya merupakan ”amar/sunnah” langsung dari ima tersebut.

Sebab kalau ditelusuri, berbagai bencana yang menimpa para umat zaman terdahulu (kaumnya Nabi Luth, kaumnya Firaun, kaumnya Nabi Nuh, dll) penyebabnya hanyasatu. Mereka semua mengingkari seruan/ajakan para utusan-Nya, yang selalu mengada di tengah-tengah umat manusia. Semoga kita mendapatkan butiran ilmu_nya, dimengertikan apa yang telah menjadi ayat-ayat-Nya, dipertemukan dengan para Imam pilihan-Nya (yang tidak akan pernah ghaib), serta diberi kekuatan untuk menaiki perahunya serta menjelajah kota ilmu-Nya.

Logika dan paradigma tasawuf

A. paradigma
Kalau kita membicarakan tasawuf secara kritik pertanyaan pertama yang muncul adalah tentang apakah tasawuf sama dengan akhlak ataukah berbeda. Jika sama, mengapa ia tetap dinamakan tasawuf. Tetapi jika berbeda, pertanyaannya menjadi demikian “adakah perbedaan yang substansial antara keduanya”? Persoalan lainnya adalah mengenai apakah tasawuf memberikan peran secara proporsional terhadap logika rasional ataukah tidak, ataukah ia hanya mengandalkan pada logika tekstual. Melalui paradigma dan logika, renungan ini mencoba memberikan jawaban atas persoalan di atas yang, tentu saja, bersifat hipotetik dan tentatif, atau sebuah jawaban alternatif.

Pada mulanya konsep paradigma yang menjadi demikian populer diperkenalkan oleh Thomas Kuhn. Melalui konsep ini, ia membuat analisis kritik terhadap anggapan yang lazim tentang perkembangan ilmu secara kumulatif. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa perkembangan utama dan penting dari ilmu pengetahuan itu akibat dari revolusi, sebuah wawasan baru yang tidak lazim dikenal oleh para pemikir kontemporer. Konsep ini kemudian diaplikasikan untuk sosiologi antara lain oleh Friedrichs dan Ritzer. Menurut keduanya, paradigma adalah anggapan dasar tentang apa yang menjadi pokok persoalan (subject matter) dalam suatu disiplin dan bagaimana aturan-aturannya atau cara kerja untuk menjawab pokok persoalan tersebut. George Ritzer mengembangkan konsep ini untuk memandang sosiologi yang dianggapnya multi paradigma. Sosiologi Durkheim, misalnya, memfokuskan pada fakta sosial menurut cara kerja ilmu natural dengan metode positivisme, yakni mencari fakta yang pasti dan merumuskan hukum. Sosiologi Weber memfokuskan pada tindakan sosial dengan cara kerja hermeneutik yang menekankan metode verstehen yang pernah diajukan oleh Dilthey. Dengan paradigma, pokok persoalan dari sebuah disiplin serta cara kerjanya menjadi jelas dan terpilah. Sebuah disiplin ibarat sebuah wilayah yang memiliki otonomi khas yang ditengarai oleh kriteria substantif-ontologis tentang apa yang manjadi pokok persoalannya, dan kriteria epistemologis-metodologis tentang bagaimana cara kerjanya yang tepat untuk diterapkan baginya.

Kini, paradigma itu diletakkan sebagai lensa pandang untuk melihat tasawuf. Tentu pertanyaan yang muncul adalah tentang apa yang menjadi pokok persoalan tasawuf, dan tentang bagaimana cara kerjanya. Ini merupakan pertanyaan utama yang harus dijawab jika tasawuf hendak dibedakan dari akhlak. Secara teoritis, ada sementara pendapat yang memandang tasawuf itu bagian dari ilmu akhlak dengan alasan karena akhlak merupakan disiplin yang mencakup aturan-aturan mengenai hubungan hamba dengan Tuhannya seperti sabar, tawakkal, taubah, mahabbah, khusyu’, dzikir dengan memperbanyak menyebut nama Allah dan lain-lain serta hubungan sesama manusia. Dengan demikian maka tasawuf adalah akhlak itu sendiri. Dalam pengertian semacam ini, sudah tentu, orang tidak lagi tergerak berusaha menemukan pokok persoalan yang khas tasawuf yang terpilah dan terpisah dari disiplin akhlak yang membedakannya secara substansial. Atau orang tidak lagi mempertanyakan tentang mengapa tasawuf disebut dengan tasawuf dan tidak disebut saja dengan akhlak. Sebaliknya, jika tasawuf diyakini memiliki pokok persoalan yang berbeda dari ilmu akhlak sehingga absah diangap sebagai satu disiplin tersendiri maka tuntutan yang diajukan kepadanya adalah keharusan menemukan pokok persoalan yang khas tasawuf tersebut. Dengan ditemukan pokok persoalan yang khas tasawuf maka keberadaan tasawuf sebagai satu disiplin menjadi mantap.

Apakah pokok persoalan tasawuf yang tidak menjadi garapan akhlak? Seperti lazim diketahui bahwa akhlak mengatur hubungan hamba dengan Tuhannya (hablun minal-lah) dan hubungan hamba dengan sesamanya (hablun minan-nas). Pengertian semacam ini tidak salah namun ia belum memperlihatkan adanya materi pokok yang membedakan tasawuf dari akhlak. Di sinilah terjadi kekaburan wilayah teoritik antara keduanya. Akhlak mengatur hablun minal-lah, dan tasawuf juga menekankan hubungan dengan Allah, lalu apa pokok masalah yang substansial yang membedakan antar keduanya? Jika pertanyaan ini tidak atau belum terjawab maka pokok persoalan tasawuf pun setiap kali akan muncul.

Adapun pokok persoalan (materi pokok) yang khas tasawuf adalah bagaimana hakekat manusia mengenal (ma’rifat) hakekat Allah melalui seorang Wasithah (Guru) yang arif dan ahli dalam ilmu hakekat yang hakiki. Apa yang dimaksud dengan hakekat Allah adalah Zat Allah. Bertemunya hakekat manusia dengan hakekat Allah inilah yang dikonsepsikan dalam tasawuf sebagai ma’rifat bil-lah, yakni mengenal Allah, atau tegasnya mengenal Zat Allah. Inilah pokok persoalan tasawuf dan ini pula yang membedakan tasawuf dari akhlak. Karena tasawuf merupakan sesuatu yang sui generis, maka cara kerjanya juga sui generis, yakni seseorang yang ingin mencari ilmu hakekat harus menemukan Guru yang arif dan ahli dalam ilmu tersebut dan menyatakan diri untuk diberi ilmu yang mengantarkannya kepada ma’rifat bil-lah. Dan dari sinilah seseorang mengawali kehidupan tasawuf, yakni pada saat seseorang berguru kepada seorang Guru yang ahli dan arif dalam ilmu hekekat yang hakiki

Di samping kekaburan wilayah teorik di atas, dalam wilayah praktis dan empiris juga terjadi kekaburan antara amalan tasawuf dengan usaha magis. Demikian ini karena orang sering melihat gejala-gejala keajaiban yang diperoleh seseorang apakah ia paranormal, peramal nasib, dukun, tukang sulap, ilmu kanoragan-kekebalan dan sejenisnya. Sementara itu di kalangan kaum sufi ada istilah “wali” yang dikenal juga memiliki keajaiban-keajaiban. Dihadapkan pada keajaiban-keajaiabn ini orang sulit membedakan apakah keajaiban-keajaiban itu datang dari Tuhan Allah ataukah dari kekuatan gaib selain Allah. Persoalan ini pernah dipertanyakan oleh William James dalam “The Varieties of Religious Experience”. Katanya, ada kesulitan yang dihadapi oleh seseorang untuk membedakan yang mana yang datang dari Tuhan dan yang mana yang dari setan, karena di dalam wataknya setan bisa meniru membuat keajaiban-keajaiban. Apa yang dipertanyakan oleh James tersebut diulang pertanyakan oleh Mohammad Iqbal dalam bukunya “The Reconstruction of Religious Thought in Islam” sambil mengutip sebuah ayat al-Quran (S. al-Hajj: 52), yang artinya: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu dan tidak pula seorang nabi melainkan apabila ia mempunyai keinginan setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu... .” Ayat di atas semakna dengan ayat dalam S. al-An’am: 112, yang artinya: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh yaitu setan-setan dari jenis manusia dan jin yang saling membisikkan ucapan- ucapan yang indah untuk menipu daya manusia...”

Terhadap persoalan tentang bagaimana membedakan apa yang datang dari Tuhan dan yang lainnya dari setan yang diajukan oleh James di atas, renungan ini mengajukan jawaban; bergurulah kepada seorang Guru yang arif dan ahli dalam ilmu hakekat yang hakiki. Melalui cara ini orang akan terbantu dapat memilah antara apa yang dari Tuhan dan apa yang datang selain dari Tuhan. Se-seorang yang kesulitan membedakan yang mana uang asli dan yang mana palsu (tiruan), ia tidak bisa lain selain bertanya kepada orang yang ahli masalah itu. Secara praktis, tasawuf adalah cara beragama yang khas dan karena itu tasawuf menjadi bagian dari agama yang pokok. Ritus agama dan usaha magis, demikian teori Malinowski menyatakan, biasa dibedakan karena tujuan dan maknanya. Ritus agama lebih dipahami sebagai suatu keharusan spiritual untuk memenuhi tuntutan dari yang diyakini (Tuhan), sedangkan usaha magis bertolak dari keinginan seseorang dengan maksud menjadikan kekuatan yang supernatural dan adikodrati memenuhi keinginannya. Lebih tegas lagi KGPAA Mangkunegooro IV dalam serat Wedhotomo terjemahan ke bahasa Indonesia menyatakan, “Maka bila berguru hendaknya jangan pada sebangsa hal-hal gaib seperti untuk kekebalan, kesaktian lahiriah dan sebagainya. Melainkan bergurulah untuk hekekat atau prinsip-prinsip dirgahayu (keselamatan), antara lain berbakti kepada Tuhan yang Maha Benar agar supaya terjaga atau terjamin kelangsungan hidupnya. Bilamana telah faham serta menguasainya, laksanakan pada setiap saat baik pagi, siang ataupun malam hari tanpa batasan atau hitungan waktu, misalnya hanya satu minggu saja, atau empat puluh hari saja, satu bulan saja dan sebagainya”. Sebagaimana diketahui, salah satu kekuatan gaib yang supernatural yang selain Allah adalah jin.

B. Logika
Renungan ini juga hendak memperlihatkan logika rasional bagi disiplin tasawuf di samping logika yang bersumber dari teks. Logika 1. Ulama Islam membuat rumusan, “Allah adalah nama bagi Zat yang wajib wujudnya”. Rumusan semacam ini mengacu kepada ayat pertama surah al-Fatihah yag artinya, “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang”. Allah adalah nama yang memiliki wujud, atau nama yang menunjuk akan adanya Zat yang wujud namun Ghaib-tidak kasat mata.

Logika 2. Jika sebuah nama itu puya zat (being, wujud) maka wujud itu pasti dapat didekati, dihadirkan, dihadiri, atau dikenali. Penulis ingin memberi satu contoh konkrit dalam hal ini nama Presiden RI, yakni SBY. SBY adalah sebuah nama yang menunjuk kepada adanya seseorang yang memiliki nama itu. Orang yang memiliki nama ini dapat dikenali, dapat dihadiri dan dapat didekati. Bapak Fenomenologi, Edmund Husserl, menafsirkan “being” sebagai “present”. Wujud ditandai dengan hadir (kehadiran) ke dalam kesadaran. Seseorang yang menyatakan kenal, dekat dan pernah hadir berhadapan dengan SBY, bermakna orang itu memang pernah hadir di depan wujud yang punya nama itu. Sebaliknya jika seseorang hanya menempatkan “nama SBY” dan diletakkan di dekatnya lalu menyatakan bahwa ia dekat dengan SBY, maka orang ini telah membuat kepalsuan. Sebab yang sebenarnya terjadi bahwa dia hanya dekat dengan nama yang diletakkan di sampingnya, dan tidak dengan wujud yang memiliki nama itu. Logika selanjutnya, sudah benar rakyat Indonesia percaya bahwa nama Presiden RI saat ini adalah SBY, tetapi tidak semua rakyat Indonesia yang punya kepercayaan ini sudah pernah kenal, bertemu muka, hadir dan mendekat dengan wujud (orang) yang memiliki nama SBY. Inilah kias cara keberagamaan kaum sufi. Dia tidak hanya percaya kepada Allah melainkan meneruskan sampai kepada mengenal Zat (wujud) yang yang memiliki nama Allah. Caranya seperti telah disinggung di atas; berguru kepada seorang Guru yang ahli dan arif dalam ilmu hakekat yang hakiki, sebab tanpa melalui ini seseorang tidak bisa mengenal Zat yang wajibul-wujud itu.

Logika 3. Zat (being, wujud) itu dapat ditangkap oleh rasio-akal dan oleh rasa. Akal memiliki kemampuan membuat deskripsi atau abstraksi, mungkin disebut konsep, definisi, atau teori yang menggambarkan sesuatu. Dahulu Aristoteles telah menyatakan, jika akal kita membuat abstraksi tentang sebongkah batu, batu itu sendiri tidak masuk ke dalam akal kita. Yang ada dalam akal kita hanyalah gambaran dari sebuah wujud. Sedangkan rasa menangkap wujud sesuatu melalui sentuhan atau pegenalan langsung. Ketika kita melihat (sentuhan mata) sesuatu, kita merasakan indahnya sesuatu. Kalau kita makan (sentuhan lisan) sesuatu, kita merasakan nikmatnya sesuatu, dan seterusnya. Melalui mata, lidah, telinga, dan organ-organ lainnya kita berkenalan langsung dengan sesuatu (dengan wujud). Di sisi lain rasa juga mengandung unsur kognisi. Kata Suhrawardi, “Man lam yadhuq lam ya’rif”. (siapa yang tidak merasa, maka ia tidak mengenal). Dalam wacana tasawuf, rasa itulah yang mengenal langsung terhadap Zat Tuhan. Seperti kalau kita tersandung batu, kita mengenali secara langsung bahwa batu itu keras. Dalam hal ini rasalah yang sejatinya mengetahui bahwa batu itu keras melalui kehadiran atau pengenalan langsung. Dan pengenalan langsung inilah yang dikonsepsikan sebagai “irfan” melalu metode “huduri” (kehadiran) . Apa yang hadir langsung kepada diri kita adalah wujud (being) dan bukan nama.

Logika 4. Rasa adalah dasar dan hakekat manusia. Rasa disebut “dasar” karena ia merupakan sumber munculnya sejumlah aktivitas. Demikianlah kita menyaksikan aktivitas seseorang yang seakan tanpa lelah mengejar ilmu pengetahuan, melakukan penelitian, eksperimen-eksperimen, mencari informasi dan seterusnya karena didorong oleh rasa ingin tahu yang mendominasi dirinya. Demikian juga rasa ingin berkuasa, rasa ingin memiliki harta kekayaan mendorong aktivitas seseorang mencari kesempatan guna meraih kekuasaan dan bekerja tanpa lelah untuk meraih apa yang diinginkan. Dalam wacana tasawuf, rasa ini memiliki tugas pokok, yakni mengenal Tuhan Allah, mengenal ZatNya atau “ma’rifat bil-lah”. Bisa jadi tugas pokok ini dilupakan akan tetapi tidak bisa dihilangkan. Dengan hadirnya Zat Allah ke dalam rasa, memberi peluang bagi seseorang merasakan nikmatnya beragama dan merasakan nikmatnya beribadah, dan rasa di dalam hatinya menjadi tidak dikuasai oleh keinginan-keinginan duniawiah melulu. Dari sinilah dimulai reorientasi eksistensial melalui transformasi karakter guna membangun sebuah kepribadian yang mulia dan meninggalkan karakter-karakter yang tercela dan merugikan diri sendiri ataupun masyarakat. Apa yang ingin ditegaskan di sini adalah bahwa tasawuf bisa menjadi titik awal membangun sebuah kepribadian. Sebelum seseorang masuk ke dalam gelanggang dan arena perjuangan yang tidak pernah sepi dari berbagai jenis tantangan, akan seyogya jika ia lebih dahulu mempersiapkan se-buah kepribadian yang mantap. Secara implisit ini berarti bahwa tasawuf sejatinya punya perhatian secara kualitatif terhadap nasib sejarah dan peradaban.

Dalam wacana tasawuf juga dinyatakan bahwa rasa adalah hekekat manusia. Ia disebut hakekat, karena rasa ini tidak akan mati. Apa yang dipakai nanti dalam hidup di akhirat adalah juga rasa yang dipakai di dunia ini. Apakah seseorang akan menikmati indahnya kehidupan di akhirat ataukah ia akan mengalami penderitaan akibat siksa yang dahsyat dan menyedihkan. Rasa yang kita pakai dalam hidup di akhirat persis seperti rasa yang kita pakai untuk hidup di dunia ini. Karena akhirat disebut sebagai “hari pembalasan” maka kehidupan akhirat sesungguhnya lebih gamblang dan lebih jelas dibanding kehidupan di dunia. Dalam khidupan di akhirat ini, alasan-alasan rasional mengapa ia membangkang dan mengingkari perintah-perintah yang datang dari Tuhan yang menguasai dunia dan akhirat sudah tidak diterima. Orang yang memperoleh nikmat, secara gamblang dan jelas, ia benar-benar merasakan indahnya kehidupan akhirat, sebaliknya, seseorang yang tertimpa siksa, secara gamblang dan jelas, ia merasakan langsung sakitnya pende-ritaan dalam kehidupan akhirat. Rasa adalah hakekat manusia dan karena itu, kenal-kanlah hakekat ini dengan Zat yang hakiki yang menguasai kehidupan dunia dan akhirat.
Diberdayakan oleh Blogger.

 

© 2013 ARTIKEL PIYE KABARE. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top